Setelah diberitakan bahwa pada 2050, benua Eropa menjadi benua Muslim terbesar di dunia, kini, sebuah peta baru diungkap: 1 dari 4 orang di dunia adalah Muslim. Begitu laporan CNN . Jumlah Muslim ini mencakup keseluruhan dunia, dan laporan itu cukup terperinci. Adalah Pew Forum on Rleigion & Public Life yang merilis laporan ini dengan judul “Mapping the Global Muslim Population.”
India, negara dengan mayoritas penduduknya Hindu, mempunyai pemeluk Muslim demikian banyak, di bawah Indonesia dan Pakistan. Itu artinya, India mempunyai Muslim dua kali lipat banyaknya daripada Mesir.
China mempunyai Muslim lebih banyak daripada Syria. Jerman memiliki Muslim lebih banyak daripada Lebanon, dan Russia mempunyai Muslim lebih banyak daripada Yordan dan Libya bahkan jika keduanya digabungkan.
Dua dari tiga orang Muslim di dunia tinggal di Asia, tersebar dari mulai dari Turki sampai Indonesia. Timur Tengah dan Afrika Utara, yang menjadi rumah bagi 1 Muslim dari 5 penduduk di dunia menduduki peringkat kedua dalam penyebarannya.
Sekarang ini, di dunia terdapat lebih dari 1,57 milyar Muslim di dunia. Ini merepresentasikan 23 % dari total keseluruhan penduduk dunia yang berjumlah 6,8 milyar.
Kristen mempunyai pemeluk 2,25 milyar—berdasarkan laporan World Religions Database . Brian Grim, peneliti senior di proyek Pew Forum, sangat terkejut dengan perkembangan jumlah Muslim ini—ia mengatakannya langsung kepada CNN. “Jumlahnya melebihi apa yang saya perkirakan,” ujarnya.
Berita gembira ataukah ancaman?
Laporan ini—menurut Reza Aslan, penulis buku laris “No god but God”—bisa memengaruhi kebijakan PBB. “Penduduk di Timur Tengah semakin membuat kecil persentase pemeluk Muslim di seluruh dunia.” Komentarnya. “Jika sudah menyangkut Muslim di dunia, jumlah ini akan mengindikasikan bahwa pencapaian ini tak bisa difokuskan demikian kecil hanya di Timur Tengah saja.”
Reza Aslan yang mempunyai darah Iran-Amerika ini menambahkan bahwa jika tujuan dari laporan ini seharusnya untuk menyatukan pengertian antara PPB dan umat Muslim, maka fokusnya seharusnya di Asia selatan dan Asia Tenggara, bukan Timur Tengah. Reza sendiri mengatakan hal tersebut sebelum laporan Pew Forum dipublikasikan kepada publik. Komentar Reza sangat beralasan mengingat sekarang umat Muslim dipojokkan dengan isu teroris.
Muslim, sebuah proyek besar
Menurut Grim, laporan ini dikerjakan selama tiga tahun dengan melibatkan 232 negara di dunia. Tujuan mereka adalah mendapatkan gambaran yang jelas akan populasi Muslim di dunia pada saat ini. Mereka mendatangi sensus dan survey nasional di setiap negara. Pew Forum menyebutkan laporan ini sebagai “proyek terbesar”. Detail penuhnya dan bahkan apa yang ditemukan oleh para peneliti ini sangat mengejutkan.
“Ada negara yang kami perkirakan tak ada umat Muslimnya, ternyata jumlahnya sangat besar,” ujar Alan Cooperman, associate director Pew Forum, seraya menyebutkan India, Russia, dan China.
Yang lainnya, 2 dari 5 orang Muslim hidup di negara dimana mereka menjadi minoritas. Menurut Cooperman, sementara orang berpikir bahwa populasi Muslim di Eropa lebih banyak imigran, itu hanya terjadi di Eropa bagian barat saja. “Sisanya di Russia, Albania, Kosovo, dan yang lainnya, adalah penduduk Asli. Lebih dari separuh Muslim di Eropa adalah penduduk asli.”
Cooperman juga mengatakan terkejut mendapatkan populasi Muslim di Afrika bagian gurun Sahara. Ada 240 juta Muslim di sana—dan itu artinya 15% dari jumlah keseluruhan Muslim di dunia.
Islam tak pelak menjadi satu-satunya agama yang berkembang sangat pesat di dunia, dengan negara seperti Nigeri yang jumlahnya Muslim-nya sekarang sama dengan Kristen. Menurut Pew Forum, Nigeria juga menjadi negara keenam terbesar penduduk Muslim-nya.
Islam di masa depan
Secara kasar, sembilan dari 10 Muslim di dunia adalah pemeluk Sunni, dan satunya lagi adalah Syi’ah. Satu dari tiga Syi’ah tinggal di Iran. Sisanya di Iraq, Azerbaijan, dan Bahrain. Dan dari data statistik ini, sangat sulit menemukan Islam sektarian.
Penemuan ini hanya tahap pertama dari proyek Pew Forum. Tahun depan, mereka rencananya akan mengeluarkan laporan tentang perkembangan Muslim di masa depan, dan focus penelitian mereka akan melibatkan umat Kristen, dan pemeluk agama lainnya. Kata Grim, “Kami tidak hanya peduli kepada Muslim. Kami mencoba memotret perkembangan agama di dunia ini.” (red/cnn)
sumber:eramuslim.com
Wednesday, 26 June 2013
Muslim itu Merdeka, dan Bersujud hanya untuk Allah
Diceritakan oleh Sayyid Quthb dalam bukunya Keadilan sosial Islam (Al Adalah Al ijtimaiyyah fi al Islam) , cerita yang didengarnya dari Ahmad Syafik Pasya , ahli sejarah yang terkenal, yang hidup pada masa pemerintahan Ismail di Mesir. Peristiwa ini berkenaan dengan kunjungan Sultan Abdul Azis ke Mesir pada masa pemerintahan Ismail.
Ismail betul-betul menyambut gembira kunjungan ini karena itu termasuk dalam program untuknya mendapatkan gelar “Khadive” , berikut hak-hak istimewa lainnya dalam pemerintahan Mesir . Salah satu acara kunjungan itu adalah temu muka antara ulama Mesir dengan khalifah. Tradisi yang biasa berlangsung setiap orang yang memasuki ruang pertemuan nanti terlebih dahulu harus sujud ke tanah dan memberikan penghormatan ala Turki tiga kali, dan upacara-upacara lainnya yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam. Untuk itulah jauh-jauh hari sebelumnya, kepada para ulama itu diberikan latihan upacara oleh para petugas istana agar tiba saatnya pertemuan itu mereka tidak akan melakukan kesalahan di depan Sultan Turki itu.
Tibalah saat yang dinanti-nantikan itu, dengan tertib para ulama yang mulia itu pun memasuki ruangan, mereka benar-benar mengikuti upacara itu dengan melupakan ajaran agamanya dan menukarnya dengan tatacara duniawi . Satu persatu mereka sujud di depan sesama makhluk , kemudian keluar dengan cara membelakangi pintu, sementar muka tetap menghadap Sultan- persis seperti yang diinstruksikan parap pengawal istana. Hanya satu orang saja yang tidak mau melakukan ketololan itu, yaitu Syekh Hasan al-Adawi. Ia tetap teguh pada ajaran agamanya, dengan mencampakkan kehormatan dunia. Ia tetap memegang prInsip bahwa yang mulia dan pantas untuk dihormati dan sujud kepada hanyalah Allah subhanahu wa Ta’ala.
Ia memasuki ruangan tetap dengan kepala tegak sebagai seorang yang merdeka menghadap sesamanya. Lalu menghadap Sultan dengan menyampaikan salam,” Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Amirul Mukminin”. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan petuah-petuah dan nasihat. Selesai acara tatap muka pun ia menyampaikan salam dan keluar dengan kepala tegak.
Melihat sikap ulama yang satu ini, gemetarlah semua calon Khadive dan pegawai istana, rasanya bumi yang mereka injak sudah terballik. Khalifah pasti murka, demikian anggapan mereka dan kalau betul itu terjadi niscaya lenyaplah sudah harapan memperoleh gelar Khadive yang sudah lama diidam-idamkan.
Akan tetapi, iman terhadap kebenaran tak mungkin sirna begitu saja, selalu ada kalbu yang siap melontarkannya dengan penuh keberanian dan merdeka, sebagaimana tertanamnya iman itu pun dengan kuat dan merdeka pula. Dengan apa yang terjadi kemudian..? Sultan Turki itu bukannya murka malahan berkata : “ Kalian sama sekali tak memiliki ulama, selain yang satu ini!” setelah peristiwa itu, Ismail dipecat dari jabatannya dan digantikan orang lain.
*********
Kisah berikut ini terjadi di Darul Ulum antara Khadive Taufik Pasya dan Syeikh Hasan Ath-Thawil. Adalah kebiasaan Prof. Hasan Ath-Thawil selalu mengenakan pakaian sederhana, Sekalipun ia guru besar pada perguruan tinggi tersebut. Pada hari wisuda sarjana, inspektur pendidikan mengumumkan bahwa khadive taufiq bermaksud mengunjungi perguruan tinggi yang diasuhnya. Maka dipersiapkanlah acara penyambutan dengan mempercantik madrasah tersebut dan yang termasuk ‘diperbaharui’ adalah penampilan Prof. Hasan ath-Thawil agar menggunakan busana yang lebih necis dan modis.
Untuk maksud tersebut dikirimkan kepadanya seperangkat jubah kebesaran lengkap dengan toganya, sehingga dengan demikian diharapkan penampilannya cukup layak untuk menyambut pembesar negerinya.
Tibalah pada hari yang ditentukan.. ternyata sang prorofessor masih tetap dengan penampilannya sehari-hari sambil ditangannya terkepit sapu tangan besar pembungkus pakaian kebesaran itu.
Melihat penampila professor yang seperti tu merah padamlah wajah inspektur pendidikan , lau mendekatinya dan bertanya,” Dimana anda simpan jubah dan toga itu , Professor?”
“Ini dalam bungkusan” jawab Professor dengan tenang, lalu meninggalkan inspektur itu yang masih menduga barangkali pakaian itu akan dikenakannya menjelang datangnya Khadive nanti. Memikirkan sang Professor akan menggunakannya, agak tenanglah hatinya.
Menitpun berlalu, suara gegap gempita mulai terdengar pertanda iringan Khadive sudah mendekati kampus. Pada saat itu terlihatlah pemandangan yang sangat mengagetkan para dosen, khususnya sang inspektur. Ternyata Syeikh Hasan Ath-Thawil menyambut sang Khadive dengan menenteng bungkusan pakaina kebesaran itu.
Ketika berhadapan ia langsung berkata ,” Mereka mengatakan saya harus menyambut Tuan dengan jubah dan toga, itulah sebabnya saya sekarang membawa kedua benda itu. Bila Tuan bermaksud menemui jubah dan toga, maka inilah dia (sembari menyodorkan bungkusan yang sejak tadi dikempitnya). Akan tetapi , bila tuan ingin menemui Hasan Ath-Thawil, sayalah orangnya..”
Mendengar alasan sang Professor itu , dengan amat wajar sang Khadive menjawab bahwa ia ingin menemui Hasan Ath-Thawil dan bukan jubah dan toga itu.
Inilah akhlak seorang mukmin, yang tak pernah merasa terhormat selain dengan keagungan islam. Jiwa dan hati nuraninya tetap bebas merdeka dari semua ikatan nilai-nilai lahiriah yang bersifat fana . Islam telah memberikan pemahaman mendalam terhadap hakikat kebenaran dan menanamkan perasaan tersebut di hati pemeluknya. Sehingga tidak lagi menganggap perlu pujian dan imbalan dari manusia. (Lr)
sumber:eramuslim.com
Ismail betul-betul menyambut gembira kunjungan ini karena itu termasuk dalam program untuknya mendapatkan gelar “Khadive” , berikut hak-hak istimewa lainnya dalam pemerintahan Mesir . Salah satu acara kunjungan itu adalah temu muka antara ulama Mesir dengan khalifah. Tradisi yang biasa berlangsung setiap orang yang memasuki ruang pertemuan nanti terlebih dahulu harus sujud ke tanah dan memberikan penghormatan ala Turki tiga kali, dan upacara-upacara lainnya yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam. Untuk itulah jauh-jauh hari sebelumnya, kepada para ulama itu diberikan latihan upacara oleh para petugas istana agar tiba saatnya pertemuan itu mereka tidak akan melakukan kesalahan di depan Sultan Turki itu.
Tibalah saat yang dinanti-nantikan itu, dengan tertib para ulama yang mulia itu pun memasuki ruangan, mereka benar-benar mengikuti upacara itu dengan melupakan ajaran agamanya dan menukarnya dengan tatacara duniawi . Satu persatu mereka sujud di depan sesama makhluk , kemudian keluar dengan cara membelakangi pintu, sementar muka tetap menghadap Sultan- persis seperti yang diinstruksikan parap pengawal istana. Hanya satu orang saja yang tidak mau melakukan ketololan itu, yaitu Syekh Hasan al-Adawi. Ia tetap teguh pada ajaran agamanya, dengan mencampakkan kehormatan dunia. Ia tetap memegang prInsip bahwa yang mulia dan pantas untuk dihormati dan sujud kepada hanyalah Allah subhanahu wa Ta’ala.
Ia memasuki ruangan tetap dengan kepala tegak sebagai seorang yang merdeka menghadap sesamanya. Lalu menghadap Sultan dengan menyampaikan salam,” Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Amirul Mukminin”. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan petuah-petuah dan nasihat. Selesai acara tatap muka pun ia menyampaikan salam dan keluar dengan kepala tegak.
Melihat sikap ulama yang satu ini, gemetarlah semua calon Khadive dan pegawai istana, rasanya bumi yang mereka injak sudah terballik. Khalifah pasti murka, demikian anggapan mereka dan kalau betul itu terjadi niscaya lenyaplah sudah harapan memperoleh gelar Khadive yang sudah lama diidam-idamkan.
Akan tetapi, iman terhadap kebenaran tak mungkin sirna begitu saja, selalu ada kalbu yang siap melontarkannya dengan penuh keberanian dan merdeka, sebagaimana tertanamnya iman itu pun dengan kuat dan merdeka pula. Dengan apa yang terjadi kemudian..? Sultan Turki itu bukannya murka malahan berkata : “ Kalian sama sekali tak memiliki ulama, selain yang satu ini!” setelah peristiwa itu, Ismail dipecat dari jabatannya dan digantikan orang lain.
*********
Kisah berikut ini terjadi di Darul Ulum antara Khadive Taufik Pasya dan Syeikh Hasan Ath-Thawil. Adalah kebiasaan Prof. Hasan Ath-Thawil selalu mengenakan pakaian sederhana, Sekalipun ia guru besar pada perguruan tinggi tersebut. Pada hari wisuda sarjana, inspektur pendidikan mengumumkan bahwa khadive taufiq bermaksud mengunjungi perguruan tinggi yang diasuhnya. Maka dipersiapkanlah acara penyambutan dengan mempercantik madrasah tersebut dan yang termasuk ‘diperbaharui’ adalah penampilan Prof. Hasan ath-Thawil agar menggunakan busana yang lebih necis dan modis.
Untuk maksud tersebut dikirimkan kepadanya seperangkat jubah kebesaran lengkap dengan toganya, sehingga dengan demikian diharapkan penampilannya cukup layak untuk menyambut pembesar negerinya.
Tibalah pada hari yang ditentukan.. ternyata sang prorofessor masih tetap dengan penampilannya sehari-hari sambil ditangannya terkepit sapu tangan besar pembungkus pakaian kebesaran itu.
Melihat penampila professor yang seperti tu merah padamlah wajah inspektur pendidikan , lau mendekatinya dan bertanya,” Dimana anda simpan jubah dan toga itu , Professor?”
“Ini dalam bungkusan” jawab Professor dengan tenang, lalu meninggalkan inspektur itu yang masih menduga barangkali pakaian itu akan dikenakannya menjelang datangnya Khadive nanti. Memikirkan sang Professor akan menggunakannya, agak tenanglah hatinya.
Menitpun berlalu, suara gegap gempita mulai terdengar pertanda iringan Khadive sudah mendekati kampus. Pada saat itu terlihatlah pemandangan yang sangat mengagetkan para dosen, khususnya sang inspektur. Ternyata Syeikh Hasan Ath-Thawil menyambut sang Khadive dengan menenteng bungkusan pakaina kebesaran itu.
Ketika berhadapan ia langsung berkata ,” Mereka mengatakan saya harus menyambut Tuan dengan jubah dan toga, itulah sebabnya saya sekarang membawa kedua benda itu. Bila Tuan bermaksud menemui jubah dan toga, maka inilah dia (sembari menyodorkan bungkusan yang sejak tadi dikempitnya). Akan tetapi , bila tuan ingin menemui Hasan Ath-Thawil, sayalah orangnya..”
Mendengar alasan sang Professor itu , dengan amat wajar sang Khadive menjawab bahwa ia ingin menemui Hasan Ath-Thawil dan bukan jubah dan toga itu.
Inilah akhlak seorang mukmin, yang tak pernah merasa terhormat selain dengan keagungan islam. Jiwa dan hati nuraninya tetap bebas merdeka dari semua ikatan nilai-nilai lahiriah yang bersifat fana . Islam telah memberikan pemahaman mendalam terhadap hakikat kebenaran dan menanamkan perasaan tersebut di hati pemeluknya. Sehingga tidak lagi menganggap perlu pujian dan imbalan dari manusia. (Lr)
sumber:eramuslim.com
Kesejahteraan Semu ???
ketahuilah bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Islam mampu
mengatur seluruh permasalahan umat, baik yang muslim maupun
nonmuslim. Sejak masa Rasulullaah Shallallahu `alaihi Wa Sallam
hingga sekarang, jejak peradaban Islam masih dapat disaksikan. Di
masa kejayaan Islam, kesejahteraan tidak dilihat dari besarnya
materi yang dimiliki. Namun sebaliknya dengan saat ini,jarak yang
sangat jauh dari sejarah Islam dulu. Mungkinkah kita dapat
mengembalikan masa itu? Ingatlah,Islam dulu dan sekarang tidak
ada yang berubah. Islam yang dibawa oleh Rasulullaah Shallallahu
`alaihi Wa Sallam dahulu tidak ada bedanya dengan masa sekarang.
Lihatlah, kiblatnya masih sama, kitabnya masih sama, Rasulnya pun
tidak berubah. Lalu dari subjeknya, manusia dulu dan sekarang pun
sama. Mereka tetap memerlukan kebutuhan sehari-hari, seperti
sandang, pangan, dan papan. Perbedaannya dengan saat ini hanya
dari sarana dan prasarana, termasuk sarana pemenuhan naluri dan
keperluan jasmani, beserta aturan kehidupan yang diterapkan.
Kondisi sekarang adalah masa tegaknya sistem
demokrasi-kapitalisme sebagai peraturan kehidupan manusia yang
menilai kesejahteraan dari materi. Demokrasi kini telah, tengah
dan makin kuat menancapkan kukunya di dunia. Maka itulah yang
menghilangkan kesejahteraan manusia di bumi. Dalam demokrasi,
materi/fisik adalah simbol kebahagiaan, padahal materi itu adalah
kebahagiaan semu. Buktinya, Indonesia dengan sistem demokrasinya,
malah banyak terjadi kesengsaraan dan kesenjangan sosial di
dalamnya. Oleh karenanya, jika memandang sejahtera adalah
banyaknya materi (harta secara fisik), maka semua orang pun
berlomba-lomba mencapai materi. Ya, sistem ekonomi
demokrasi-kapitalisme telah mengkondisikan orang untuk bergerak
dan hidup yang pasti memerlukan uang. Hal ini karena
demokrasi-kapitalisme telah menjadikan harga sebagai sarana
distribusi. Artinya, uang dijadikan alat distribusi. Akibatnya,
akses pada segala sesuatu harus menggunakan uang. Na'udzubillaahi
min dzaaalik.contohnya pilkadal(pemilihan kepada daerah langsung)
bukan rahasia umum bahwa untuk menjadi kepala daerah itu harus
mempunyai dana yang besar hingga miliaran rupiah begitu juga
untuk menjadi anggota legislatif.
Demokrasi-kapitalisme juga menghasilkan paham kebebasan yang
berupa kebebasan kepemilikan, akibatnya landasan teori ekonomi
kapitalistik adalah memiliki modal sekecil-kecilnya untuk meraih
keuntungan sebesar-besarnya. Ditambah lagi dengan adanya
kebebasaan individu. Kebebasan untuk apapun tanpa batas. Yang
parah yaitu bebas dalam memilih agama. Seseorang bebas memilih
agama, berpindah agama, membuat agama baru, bahkan tidak beragama
pun diperbolehkan. Lalu, dalam hal kebebasan berpendapat,
sebebas-bebasnya. Dalam Islam, menyampaikan pendapat tentu
boleh-boleh saja, namun tetap dalam koridor hukum syara’. Justru
dengan adanya demokratisasi, telah menjadikan orang-orang begitu
mudahnya melanggar aturan Allah, menghujat Nabi Shallallahu
`alaihi Wa Sallam, dll. Pun dengan kebebasan berperilaku dan
berekspresi, sehingga tidak ada larangan jika berpakaian yang
membuka aurat.
Mangunwijaya memberi komentar cukup pedes buat kapitalisme dalam
eseinya “Mencari Landasan Sendiri”: “…ternyatalah, bahwa sistem
liberal kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan
diperlunak sekalipun, dibolak-balik diargumentasi dengan fasih
ilmiah seribu kepala botak, ternyata hanya dapat berfungsi dengan
tumbal-tumbal sekian milyar rakyat lemah miskin di seluruh dunia,
termasuk dan teristimewa Indonesia..”
berbeda dengan islam.islam itu memuliakan masyarakatnya
saudaraku sekalian, kita wajib menyadari kalo aturan hidup selain
Islam tidak akan pernah membuat masyarakatnya tentram,bahagia,dan
mulia.
masih kita mengingkan kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, atau
komunisme,sebagai dasar dinegara semuanya cuma membuat rakyat
tambah melarat. Firman Allah Shubhanallah wa taala.:”Dan
barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124)
solusi logis dan sesuai syariat adalah dengan menerapkan Islam
sebagai ideologi negara. Karena apa? Karena masalah akhlak,
masalah ekonomi, masalah kekacauan sosial, pendidikan, budaya,
kesejahteraan rakyat, hukum, pemerintahan dan sebagainya insya
Allah akan beres kalo diterapkan Islam sebagai ideologi negara.
Menurut Muhammad Ismail dalam bukunya, Al-Fikr al-Islâmi (hlm.
9–11), yang disebut dengan mabda’ (ideologi) adalah
akidah/keyakinan yang digali dari proses berpikir, yang kemudian
melahirkan sistem atau aturan-aturan (‘aqîdah ‘aqliyyah
yanbatsiqu ‘anhâ nizhâm). Menurut definisi ini, sebuah
akidah/keyakinan disebut sebagai mabda’ (ideologi) jika memiliki
dua syarat: (1) bersifat ‘aqliyyah; (2) memiliki sistem/aturan.
Tanpa Islam, kehidupan kita akan sengsara seperti sekarang,
ketika kita berada dalam naungan kapitalisme. Firman Allah
Shubhanallah wa taala:”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum)
Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maaidah [5]: 50)
kalo ingin menuju kehidupan yang mulia,cuma Islam solusinya.
Bukan dengan ideologi lain.
Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam. bersabda (yang
artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru
yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu
rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan
memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan
menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan
yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu Hibban)
dalam soal futuhat alias penaklukan negeri-negeri yang dilakukan
kekhilafahan Islam berbeda dengan penjajahan gaya Kapitalisme.
Islam di bawah kekuasaan Khilafah Islam disebar ke
wilayah-wilayah di luar Arab sebenarnya dalam rangka membebaskan
dan memuliakan manusia agar mereka dapat kehidupan layak.
Beda dengan penjajah, mereka datang untuk menguasai apa yang
berharga di wilayah jajahan mereka.kita ini sudah hampir 70 tahun
merdeka tapi kesejahteraan yang di impikan jauuuuuuh.presiden pun
sudah berkali-kali berganti ratusan menteri pun sudah berganti
memimpin departemen tapi toh tak bisa. hampir 70 tahun juga
demokerasi di elu-elukan sebagai sistem terbaik tapi nyatanya
yunani dan eropa negara pencetus pertama demokrasi pun sekaraang
sedang sekarat masalah ekonominya.kalau tukul bilang mah
MENGHARUKAN....
bersambung...
diambil dari berbagai sumber
mengatur seluruh permasalahan umat, baik yang muslim maupun
nonmuslim. Sejak masa Rasulullaah Shallallahu `alaihi Wa Sallam
hingga sekarang, jejak peradaban Islam masih dapat disaksikan. Di
masa kejayaan Islam, kesejahteraan tidak dilihat dari besarnya
materi yang dimiliki. Namun sebaliknya dengan saat ini,jarak yang
sangat jauh dari sejarah Islam dulu. Mungkinkah kita dapat
mengembalikan masa itu? Ingatlah,Islam dulu dan sekarang tidak
ada yang berubah. Islam yang dibawa oleh Rasulullaah Shallallahu
`alaihi Wa Sallam dahulu tidak ada bedanya dengan masa sekarang.
Lihatlah, kiblatnya masih sama, kitabnya masih sama, Rasulnya pun
tidak berubah. Lalu dari subjeknya, manusia dulu dan sekarang pun
sama. Mereka tetap memerlukan kebutuhan sehari-hari, seperti
sandang, pangan, dan papan. Perbedaannya dengan saat ini hanya
dari sarana dan prasarana, termasuk sarana pemenuhan naluri dan
keperluan jasmani, beserta aturan kehidupan yang diterapkan.
Kondisi sekarang adalah masa tegaknya sistem
demokrasi-kapitalisme sebagai peraturan kehidupan manusia yang
menilai kesejahteraan dari materi. Demokrasi kini telah, tengah
dan makin kuat menancapkan kukunya di dunia. Maka itulah yang
menghilangkan kesejahteraan manusia di bumi. Dalam demokrasi,
materi/fisik adalah simbol kebahagiaan, padahal materi itu adalah
kebahagiaan semu. Buktinya, Indonesia dengan sistem demokrasinya,
malah banyak terjadi kesengsaraan dan kesenjangan sosial di
dalamnya. Oleh karenanya, jika memandang sejahtera adalah
banyaknya materi (harta secara fisik), maka semua orang pun
berlomba-lomba mencapai materi. Ya, sistem ekonomi
demokrasi-kapitalisme telah mengkondisikan orang untuk bergerak
dan hidup yang pasti memerlukan uang. Hal ini karena
demokrasi-kapitalisme telah menjadikan harga sebagai sarana
distribusi. Artinya, uang dijadikan alat distribusi. Akibatnya,
akses pada segala sesuatu harus menggunakan uang. Na'udzubillaahi
min dzaaalik.contohnya pilkadal(pemilihan kepada daerah langsung)
bukan rahasia umum bahwa untuk menjadi kepala daerah itu harus
mempunyai dana yang besar hingga miliaran rupiah begitu juga
untuk menjadi anggota legislatif.
Demokrasi-kapitalisme juga menghasilkan paham kebebasan yang
berupa kebebasan kepemilikan, akibatnya landasan teori ekonomi
kapitalistik adalah memiliki modal sekecil-kecilnya untuk meraih
keuntungan sebesar-besarnya. Ditambah lagi dengan adanya
kebebasaan individu. Kebebasan untuk apapun tanpa batas. Yang
parah yaitu bebas dalam memilih agama. Seseorang bebas memilih
agama, berpindah agama, membuat agama baru, bahkan tidak beragama
pun diperbolehkan. Lalu, dalam hal kebebasan berpendapat,
sebebas-bebasnya. Dalam Islam, menyampaikan pendapat tentu
boleh-boleh saja, namun tetap dalam koridor hukum syara’. Justru
dengan adanya demokratisasi, telah menjadikan orang-orang begitu
mudahnya melanggar aturan Allah, menghujat Nabi Shallallahu
`alaihi Wa Sallam, dll. Pun dengan kebebasan berperilaku dan
berekspresi, sehingga tidak ada larangan jika berpakaian yang
membuka aurat.
Mangunwijaya memberi komentar cukup pedes buat kapitalisme dalam
eseinya “Mencari Landasan Sendiri”: “…ternyatalah, bahwa sistem
liberal kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan
diperlunak sekalipun, dibolak-balik diargumentasi dengan fasih
ilmiah seribu kepala botak, ternyata hanya dapat berfungsi dengan
tumbal-tumbal sekian milyar rakyat lemah miskin di seluruh dunia,
termasuk dan teristimewa Indonesia..”
berbeda dengan islam.islam itu memuliakan masyarakatnya
saudaraku sekalian, kita wajib menyadari kalo aturan hidup selain
Islam tidak akan pernah membuat masyarakatnya tentram,bahagia,dan
mulia.
masih kita mengingkan kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, atau
komunisme,sebagai dasar dinegara semuanya cuma membuat rakyat
tambah melarat. Firman Allah Shubhanallah wa taala.:”Dan
barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124)
solusi logis dan sesuai syariat adalah dengan menerapkan Islam
sebagai ideologi negara. Karena apa? Karena masalah akhlak,
masalah ekonomi, masalah kekacauan sosial, pendidikan, budaya,
kesejahteraan rakyat, hukum, pemerintahan dan sebagainya insya
Allah akan beres kalo diterapkan Islam sebagai ideologi negara.
Menurut Muhammad Ismail dalam bukunya, Al-Fikr al-Islâmi (hlm.
9–11), yang disebut dengan mabda’ (ideologi) adalah
akidah/keyakinan yang digali dari proses berpikir, yang kemudian
melahirkan sistem atau aturan-aturan (‘aqîdah ‘aqliyyah
yanbatsiqu ‘anhâ nizhâm). Menurut definisi ini, sebuah
akidah/keyakinan disebut sebagai mabda’ (ideologi) jika memiliki
dua syarat: (1) bersifat ‘aqliyyah; (2) memiliki sistem/aturan.
Tanpa Islam, kehidupan kita akan sengsara seperti sekarang,
ketika kita berada dalam naungan kapitalisme. Firman Allah
Shubhanallah wa taala:”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum)
Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maaidah [5]: 50)
kalo ingin menuju kehidupan yang mulia,cuma Islam solusinya.
Bukan dengan ideologi lain.
Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam. bersabda (yang
artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru
yang ditembus malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu
rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan
memasukinya sehingga dapat memuliakan agama yang mulia dan
menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan
yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu Hibban)
dalam soal futuhat alias penaklukan negeri-negeri yang dilakukan
kekhilafahan Islam berbeda dengan penjajahan gaya Kapitalisme.
Islam di bawah kekuasaan Khilafah Islam disebar ke
wilayah-wilayah di luar Arab sebenarnya dalam rangka membebaskan
dan memuliakan manusia agar mereka dapat kehidupan layak.
Beda dengan penjajah, mereka datang untuk menguasai apa yang
berharga di wilayah jajahan mereka.kita ini sudah hampir 70 tahun
merdeka tapi kesejahteraan yang di impikan jauuuuuuh.presiden pun
sudah berkali-kali berganti ratusan menteri pun sudah berganti
memimpin departemen tapi toh tak bisa. hampir 70 tahun juga
demokerasi di elu-elukan sebagai sistem terbaik tapi nyatanya
yunani dan eropa negara pencetus pertama demokrasi pun sekaraang
sedang sekarat masalah ekonominya.kalau tukul bilang mah
MENGHARUKAN....
bersambung...
diambil dari berbagai sumber
Subscribe to:
Posts (Atom)
