for better life Headline Animator

Wednesday, 26 June 2013

Muslim Telah Menjadi 1 Orang dari 4 Orang di Dunia

Setelah diberitakan bahwa pada 2050, benua Eropa menjadi benua  Muslim terbesar di dunia, kini, sebuah peta baru diungkap: 1 dari 4 orang di dunia adalah Muslim. Begitu laporan CNN . Jumlah Muslim ini mencakup keseluruhan dunia, dan laporan itu cukup terperinci. Adalah Pew Forum on Rleigion & Public Life yang merilis laporan ini dengan judul “Mapping the Global Muslim Population.”

India, negara dengan mayoritas penduduknya Hindu, mempunyai pemeluk Muslim demikian banyak, di bawah Indonesia dan Pakistan. Itu artinya, India mempunyai Muslim dua kali lipat banyaknya daripada Mesir.

China mempunyai Muslim lebih banyak daripada Syria. Jerman memiliki Muslim lebih banyak daripada Lebanon, dan Russia mempunyai Muslim lebih banyak daripada Yordan dan Libya bahkan jika keduanya digabungkan.

Dua dari tiga orang Muslim di dunia tinggal di Asia, tersebar dari mulai dari Turki sampai Indonesia. Timur Tengah dan Afrika Utara, yang menjadi rumah bagi 1 Muslim dari 5 penduduk di dunia menduduki peringkat kedua dalam penyebarannya.

Sekarang ini, di dunia terdapat lebih dari 1,57 milyar Muslim di dunia. Ini merepresentasikan 23 % dari total keseluruhan penduduk dunia yang berjumlah 6,8 milyar.

Kristen mempunyai pemeluk 2,25 milyar—berdasarkan laporan World Religions Database . Brian Grim, peneliti senior di proyek Pew Forum, sangat terkejut dengan perkembangan jumlah Muslim ini—ia mengatakannya langsung kepada CNN. “Jumlahnya melebihi apa yang saya perkirakan,” ujarnya.

Berita gembira ataukah ancaman?

Laporan ini—menurut Reza Aslan, penulis buku laris “No god but God”—bisa memengaruhi kebijakan PBB. “Penduduk di Timur Tengah semakin membuat kecil persentase pemeluk Muslim di seluruh dunia.” Komentarnya. “Jika sudah menyangkut Muslim di dunia, jumlah ini akan mengindikasikan bahwa pencapaian ini tak bisa difokuskan demikian kecil hanya di Timur Tengah saja.”

Reza Aslan yang mempunyai darah Iran-Amerika ini menambahkan bahwa jika tujuan dari laporan ini seharusnya untuk menyatukan pengertian antara PPB dan umat Muslim, maka fokusnya seharusnya di Asia selatan dan Asia Tenggara, bukan Timur Tengah. Reza sendiri mengatakan hal tersebut sebelum laporan Pew Forum dipublikasikan kepada publik. Komentar Reza sangat beralasan mengingat sekarang umat Muslim dipojokkan dengan isu teroris.

Muslim, sebuah proyek besar

Menurut Grim, laporan ini dikerjakan selama tiga tahun dengan melibatkan 232 negara di dunia. Tujuan mereka adalah mendapatkan gambaran yang jelas akan populasi Muslim di dunia pada saat ini. Mereka mendatangi sensus dan survey nasional di setiap negara. Pew Forum menyebutkan laporan ini sebagai “proyek terbesar”. Detail penuhnya dan bahkan apa yang ditemukan oleh para peneliti ini sangat mengejutkan.

“Ada negara yang kami perkirakan tak ada umat Muslimnya, ternyata jumlahnya sangat besar,” ujar Alan Cooperman, associate director Pew Forum, seraya menyebutkan India, Russia, dan China.

Yang lainnya, 2 dari 5 orang Muslim hidup di negara dimana mereka menjadi minoritas. Menurut Cooperman, sementara orang berpikir bahwa populasi Muslim di Eropa lebih banyak imigran, itu hanya terjadi di Eropa bagian barat saja. “Sisanya di Russia, Albania, Kosovo, dan yang lainnya, adalah penduduk Asli. Lebih dari separuh Muslim di Eropa adalah penduduk asli.”

Cooperman juga mengatakan terkejut mendapatkan populasi Muslim di Afrika bagian gurun Sahara. Ada 240 juta Muslim di sana—dan itu artinya 15% dari jumlah keseluruhan Muslim di dunia.

Islam tak pelak menjadi satu-satunya agama yang berkembang sangat pesat di dunia, dengan negara seperti Nigeri yang jumlahnya Muslim-nya sekarang sama dengan Kristen. Menurut Pew Forum, Nigeria juga menjadi negara keenam terbesar penduduk Muslim-nya.

Islam di masa depan

Secara kasar, sembilan dari 10 Muslim di dunia adalah pemeluk Sunni, dan satunya lagi adalah Syi’ah. Satu dari tiga Syi’ah tinggal di Iran. Sisanya di Iraq, Azerbaijan, dan Bahrain. Dan dari data statistik ini, sangat sulit menemukan Islam sektarian.

Penemuan ini hanya tahap pertama dari proyek Pew Forum. Tahun depan, mereka rencananya akan mengeluarkan laporan tentang perkembangan Muslim di masa depan, dan focus penelitian mereka akan melibatkan umat Kristen, dan pemeluk agama lainnya. Kata Grim, “Kami tidak hanya peduli kepada Muslim. Kami mencoba memotret perkembangan agama di dunia ini.” (red/cnn)


sumber:eramuslim.com

Muslim itu Merdeka, dan Bersujud hanya untuk Allah

Diceritakan oleh Sayyid Quthb dalam bukunya Keadilan sosial Islam (Al Adalah Al ijtimaiyyah fi al Islam) , cerita yang didengarnya dari Ahmad Syafik Pasya , ahli sejarah  yang terkenal,  yang hidup pada masa pemerintahan Ismail di Mesir. Peristiwa ini berkenaan dengan kunjungan Sultan Abdul Azis ke Mesir pada masa pemerintahan Ismail.

Ismail betul-betul menyambut gembira kunjungan ini karena itu termasuk dalam program untuknya mendapatkan gelar “Khadive” , berikut hak-hak istimewa lainnya dalam pemerintahan Mesir . Salah satu acara kunjungan  itu adalah temu muka antara ulama Mesir dengan khalifah. Tradisi yang biasa berlangsung setiap orang yang memasuki ruang pertemuan nanti terlebih dahulu harus sujud ke tanah dan memberikan penghormatan ala Turki tiga kali, dan upacara-upacara lainnya yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam. Untuk itulah jauh-jauh hari sebelumnya, kepada para ulama itu diberikan latihan upacara oleh para petugas istana agar tiba saatnya pertemuan itu mereka tidak akan melakukan kesalahan di depan Sultan Turki itu.

Tibalah saat yang dinanti-nantikan itu, dengan tertib para ulama yang mulia itu pun memasuki ruangan, mereka benar-benar mengikuti upacara itu dengan melupakan ajaran agamanya dan menukarnya dengan tatacara duniawi . Satu persatu mereka sujud di depan sesama makhluk , kemudian keluar dengan cara membelakangi pintu, sementar muka tetap menghadap Sultan- persis seperti yang diinstruksikan parap pengawal istana. Hanya satu orang saja yang tidak mau melakukan ketololan itu, yaitu Syekh Hasan al-Adawi. Ia tetap teguh pada ajaran agamanya, dengan mencampakkan kehormatan dunia. Ia tetap memegang prInsip bahwa yang mulia dan pantas untuk dihormati dan sujud kepada   hanyalah Allah subhanahu wa Ta’ala.

Ia memasuki ruangan tetap dengan kepala tegak sebagai seorang yang merdeka menghadap sesamanya. Lalu menghadap Sultan dengan menyampaikan salam,” Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Amirul Mukminin”. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan petuah-petuah dan nasihat. Selesai acara tatap muka pun ia menyampaikan salam dan keluar dengan kepala tegak.

Melihat sikap ulama yang satu ini, gemetarlah semua calon Khadive dan pegawai istana, rasanya bumi yang mereka injak sudah terballik. Khalifah pasti murka, demikian anggapan mereka dan kalau betul itu terjadi niscaya lenyaplah sudah harapan memperoleh gelar Khadive yang sudah lama diidam-idamkan.

Akan tetapi, iman terhadap kebenaran tak mungkin sirna begitu saja, selalu ada kalbu yang siap melontarkannya dengan penuh keberanian dan merdeka, sebagaimana tertanamnya iman itu pun dengan kuat dan merdeka pula. Dengan apa yang terjadi kemudian..? Sultan Turki itu bukannya murka malahan berkata : “ Kalian sama sekali tak memiliki ulama, selain yang satu ini!” setelah peristiwa itu, Ismail dipecat dari jabatannya dan digantikan orang lain.

*********

Kisah  berikut ini terjadi di Darul Ulum antara Khadive Taufik Pasya dan Syeikh Hasan Ath-Thawil. Adalah kebiasaan Prof. Hasan Ath-Thawil selalu mengenakan pakaian sederhana, Sekalipun ia guru besar pada perguruan tinggi tersebut. Pada hari wisuda sarjana, inspektur pendidikan mengumumkan bahwa khadive taufiq bermaksud mengunjungi perguruan tinggi yang  diasuhnya. Maka dipersiapkanlah acara penyambutan dengan mempercantik madrasah tersebut dan yang termasuk ‘diperbaharui’ adalah penampilan Prof. Hasan ath-Thawil agar menggunakan busana yang lebih necis dan modis.

Untuk maksud tersebut dikirimkan kepadanya seperangkat jubah kebesaran lengkap dengan toganya, sehingga dengan demikian diharapkan penampilannya cukup layak untuk menyambut pembesar negerinya.

Tibalah pada hari yang ditentukan.. ternyata sang prorofessor masih tetap dengan penampilannya sehari-hari sambil ditangannya terkepit sapu tangan besar pembungkus pakaian kebesaran itu.

Melihat penampila  professor yang seperti tu merah padamlah wajah inspektur pendidikan , lau mendekatinya dan bertanya,” Dimana anda simpan jubah dan toga itu ,  Professor?”

“Ini dalam bungkusan” jawab Professor dengan tenang, lalu meninggalkan inspektur itu yang masih menduga barangkali pakaian itu akan dikenakannya menjelang datangnya Khadive nanti. Memikirkan sang Professor akan menggunakannya, agak tenanglah hatinya.

Menitpun berlalu, suara gegap gempita mulai terdengar pertanda iringan Khadive sudah mendekati kampus. Pada saat itu terlihatlah pemandangan yang sangat mengagetkan para dosen, khususnya sang inspektur. Ternyata Syeikh Hasan Ath-Thawil  menyambut sang Khadive dengan  menenteng bungkusan pakaina kebesaran itu.

Ketika berhadapan ia langsung berkata ,” Mereka mengatakan saya harus menyambut Tuan dengan jubah dan toga, itulah sebabnya saya sekarang membawa kedua benda itu. Bila Tuan bermaksud menemui jubah dan toga, maka inilah dia (sembari menyodorkan bungkusan yang sejak tadi dikempitnya). Akan tetapi , bila tuan ingin menemui Hasan Ath-Thawil, sayalah orangnya..”

Mendengar alasan sang Professor itu , dengan amat wajar sang Khadive menjawab bahwa ia ingin menemui Hasan Ath-Thawil dan bukan jubah dan toga itu.

Inilah akhlak seorang mukmin, yang tak pernah merasa terhormat selain dengan keagungan islam. Jiwa dan hati nuraninya tetap bebas merdeka dari semua ikatan nilai-nilai lahiriah yang bersifat fana . Islam telah memberikan pemahaman mendalam terhadap hakikat kebenaran dan menanamkan perasaan tersebut di hati  pemeluknya. Sehingga tidak lagi menganggap perlu pujian dan imbalan dari manusia.    (Lr)

sumber:eramuslim.com

Kesejahteraan Semu ???

ketahuilah bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Islam mampu

mengatur seluruh permasalahan umat, baik yang muslim maupun

nonmuslim. Sejak masa Rasulullaah Shallallahu `alaihi Wa Sallam

hingga sekarang, jejak peradaban Islam masih dapat disaksikan. Di

masa kejayaan Islam, kesejahteraan tidak dilihat dari besarnya

materi yang dimiliki. Namun sebaliknya dengan saat ini,jarak yang

sangat jauh dari sejarah Islam dulu. Mungkinkah kita dapat

mengembalikan masa itu? Ingatlah,Islam dulu dan sekarang tidak

ada yang berubah. Islam yang dibawa oleh Rasulullaah Shallallahu

`alaihi Wa Sallam dahulu tidak ada bedanya dengan masa sekarang.

Lihatlah, kiblatnya masih sama, kitabnya masih sama, Rasulnya pun

tidak berubah. Lalu dari subjeknya, manusia dulu dan sekarang pun

sama. Mereka tetap memerlukan kebutuhan sehari-hari, seperti

sandang, pangan, dan papan. Perbedaannya dengan saat ini hanya

dari sarana dan prasarana, termasuk sarana pemenuhan naluri dan

keperluan jasmani, beserta aturan kehidupan yang diterapkan.

Kondisi sekarang adalah masa tegaknya sistem

demokrasi-kapitalisme sebagai peraturan kehidupan manusia yang

menilai kesejahteraan dari materi. Demokrasi kini telah, tengah

dan makin kuat menancapkan kukunya di dunia. Maka itulah yang

menghilangkan kesejahteraan manusia di bumi. Dalam demokrasi,

materi/fisik adalah simbol kebahagiaan, padahal materi itu adalah

kebahagiaan semu. Buktinya, Indonesia dengan sistem demokrasinya,

malah banyak terjadi kesengsaraan dan kesenjangan sosial di

dalamnya. Oleh karenanya, jika memandang sejahtera adalah

banyaknya materi (harta secara fisik), maka semua orang pun

berlomba-lomba mencapai materi. Ya, sistem ekonomi

demokrasi-kapitalisme telah mengkondisikan orang untuk bergerak

dan hidup yang pasti memerlukan uang. Hal ini karena

demokrasi-kapitalisme telah menjadikan harga sebagai sarana

distribusi. Artinya, uang dijadikan alat distribusi. Akibatnya,

akses pada segala sesuatu harus menggunakan uang. Na'udzubillaahi

min dzaaalik.contohnya pilkadal(pemilihan kepada daerah langsung)

bukan rahasia umum bahwa untuk menjadi kepala daerah itu harus

mempunyai dana yang besar hingga miliaran rupiah begitu juga

untuk menjadi anggota legislatif.

Demokrasi-kapitalisme juga menghasilkan paham kebebasan yang

berupa kebebasan kepemilikan, akibatnya landasan teori ekonomi

kapitalistik adalah memiliki modal sekecil-kecilnya untuk meraih

keuntungan sebesar-besarnya. Ditambah lagi dengan adanya

kebebasaan individu. Kebebasan untuk apapun tanpa batas. Yang

parah yaitu bebas dalam memilih agama. Seseorang bebas memilih

agama, berpindah agama, membuat agama baru, bahkan tidak beragama

pun diperbolehkan. Lalu, dalam hal kebebasan berpendapat,

sebebas-bebasnya. Dalam Islam, menyampaikan pendapat tentu

boleh-boleh saja, namun tetap dalam koridor hukum syara’. Justru

dengan adanya demokratisasi, telah menjadikan orang-orang begitu

mudahnya melanggar aturan Allah, menghujat Nabi Shallallahu

`alaihi Wa Sallam, dll. Pun dengan kebebasan berperilaku dan

berekspresi, sehingga tidak ada larangan jika berpakaian yang

membuka aurat.

Mangunwijaya memberi komentar cukup pedes buat kapitalisme dalam

eseinya “Mencari Landasan Sendiri”: “…ternyatalah, bahwa sistem

liberal kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan

diperlunak sekalipun, dibolak-balik diargumentasi dengan fasih

ilmiah seribu kepala botak, ternyata hanya dapat berfungsi dengan

tumbal-tumbal sekian milyar rakyat lemah miskin di seluruh dunia,

termasuk dan teristimewa Indonesia..”

berbeda dengan islam.islam itu memuliakan masyarakatnya
saudaraku sekalian, kita wajib menyadari kalo aturan hidup selain

Islam tidak akan pernah membuat masyarakatnya tentram,bahagia,dan

mulia.
masih kita mengingkan kapitalisme, sekulerisme, sosialisme, atau

komunisme,sebagai dasar dinegara  semuanya cuma membuat rakyat

tambah melarat. Firman Allah Shubhanallah wa taala.:”Dan

barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya

baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya

pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thahaa [20]: 124)

solusi logis dan sesuai syariat adalah dengan menerapkan Islam

sebagai ideologi negara. Karena apa? Karena masalah akhlak,

masalah ekonomi, masalah kekacauan sosial, pendidikan, budaya,

kesejahteraan rakyat, hukum, pemerintahan dan sebagainya insya

Allah akan beres kalo diterapkan Islam sebagai ideologi negara.

Menurut Muhammad Ismail dalam bukunya, Al-Fikr al-Islâmi (hlm.

9–11), yang disebut dengan mabda’ (ideologi) adalah

akidah/keyakinan yang digali dari proses berpikir, yang kemudian

melahirkan sistem atau aturan-aturan (‘aqîdah ‘aqliyyah

yanbatsiqu ‘anhâ nizhâm). Menurut definisi ini, sebuah

akidah/keyakinan disebut sebagai mabda’ (ideologi) jika memiliki

dua syarat: (1) bersifat ‘aqliyyah; (2) memiliki sistem/aturan.

Tanpa Islam, kehidupan kita akan sengsara seperti sekarang,

ketika kita berada dalam naungan kapitalisme. Firman Allah

Shubhanallah wa taala:”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka

kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum)

Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maaidah [5]: 50)

kalo ingin menuju kehidupan yang mulia,cuma Islam solusinya.

Bukan dengan ideologi lain.

Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam. bersabda (yang

artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru

yang ditem­bus malam dan siang. Allah tidak akan mem­biarkan satu

rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan

memasukinya se­hingga dapat memuliakan agama yang mulia dan

menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam dan

yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu Hibban)

dalam soal futuhat alias penaklukan negeri-negeri yang dilakukan

kekhilafahan Islam berbeda dengan penjajahan gaya Kapitalisme.

Islam di bawah kekuasaan Khilafah Islam disebar ke

wilayah-wilayah di luar Arab sebenarnya dalam rangka membebaskan

dan memuliakan manusia agar mereka dapat kehidupan layak.

Beda dengan penjajah, mereka datang untuk menguasai apa yang

berharga di wilayah jajahan mereka.kita ini sudah hampir 70 tahun

merdeka tapi kesejahteraan yang di impikan jauuuuuuh.presiden pun

sudah berkali-kali berganti ratusan menteri pun sudah berganti

memimpin departemen tapi toh tak bisa. hampir 70 tahun juga

demokerasi di elu-elukan sebagai sistem terbaik tapi nyatanya

yunani dan eropa negara pencetus pertama demokrasi pun sekaraang

sedang sekarat masalah ekonominya.kalau tukul bilang mah

MENGHARUKAN....

bersambung...

diambil dari berbagai sumber