Alhamdulillaahi Wash Sholaatu Wassalaamu 'alaa RasuulilLaah ...
ammaa ba'du,
1. Sukses sejati adalah keberhasilan meraih do'a : ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIRATI HASANAH WAQINAA 'ADZAABAN NAAR
'Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu , atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. 2:200)
Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka " (QS. 2:201)
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. 2:202)'
2. Diraih dengan IMAN dan TAQWA
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)"
"[16:97] Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
"Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS. 40:39)
Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS. 40:40)"
"Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. (QS. 92:14)
Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, (QS. 92:15)
yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman. (QS. 92:16)
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, (QS. 92:17)"
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (QS. 3:133)"
3. Ramadhan Mendatangkan AMPUNAN
MAN SHOOMA ROMADHOONA IIMAANAN WAH-TISAABAN GHUFIRO LAHU MAA TAQODDAMA MIN DZANBIHI
" Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu". ( HR.Bukhary Muslim)
4. Ramadhan membukakan pintu SURGA yang diraih dengan TAQWA
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)"
5. Ciri Utama IMAN dan TAQWA adalah takut pada ALLAAH 'AZZA WA JALLA
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka , (QS. 23:60)
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS. 23:61)"
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS. 98:7)
Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya. (QS. 98:8)"
6. Orang yang takut pada Allah meraih hal itu dengan ILMU yang benar
"Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (Orang-orang yang BERILMU). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 35:28)"
7. Ilmu yang BENAR hanya dari ALLAAH Subhaanahu wa Ta'aalaa
"Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)"
8. Berbuah TAFAKKUR (merenungi ayat-ayat Allaah), DZIKIR (mengingat ALLAAH), dan TASBIH (mensucikan ALLAAH) sehingga melakukan DO'A (memohon pada ALLAAH) agar SELAMAT DARI SIKSA NERAKA.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. 3:190)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)"
9. Kesimpulan :
Agar kita bisa meraih SUKSES dengan datangnya Ramadhan, maka haruslah bersemangat meraih Ampunan ALLAAH dan meningkatkan TAQWA kepada Allaah dengan menumbuhkan Takut, Tafakkur, banyak Dzikir, rajin Menuntut Ilmu yang benar dan mengamalkannya (Ash Shirootul Mustaqiim), serta berdo'a dengan sungguh-sungguh.
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah 6 dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan . (QS. 1:5)
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. 1:6)
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat . (QS. 1:7)"
"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)"
Selamat Ramadhan, semoga Allaah Ta'aalaa menuntun lisan, mata, telinga, anggota badan, dan qalbu kita untuk selalu Dzikir/mengingat kepada-Nya ... Aamiin.
diambil dari: abuyahyalearntoblog.blogspot.com
Showing posts with label Belajar dari orang sholeh. Show all posts
Showing posts with label Belajar dari orang sholeh. Show all posts
Tuesday, 30 July 2013
Monday, 29 July 2013
Ibnu Abbas Pemuda Haus Ilmu
"Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?" tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil.
"Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu."
Pemuda kecil itu termangu di depan Rasulullah. Ia memusatkan perhatian pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia paling mulia itu.
"Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepada-Nya. Jika kamu butuh pertolongan, memohonlah kepada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis."
Pemuda beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil, dalam sehari itu ia menerima banyak ilmu.
Bak kata pepatah, sekali dayung tiga empat pulau terlampaui, wejangan Rasulullah saat itu telah memenuhi rasa ingin tahunya. Pelajaran akidah, ilmu dan amal sekaligus ia terima dalam sekali pertemuan.
Keakraban dengan Rasulullah sejak kecil membuat Ibnu Abbas tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa. Keikhlasannya seluas padang pasir tempatnya tinggal. Keberanian dan gairah jihadnya sepanas sinar matahari gurun. Kasihnya seperti oase di tengah sahara.
Hidup bersama Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah.
Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.
Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. "Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu." Demikian doa Rasulullah.
Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Semasa hidupnya, Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan Abdullah bin Abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan sahabat-sahabat kecil lainnya.
Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang menjadi panutannya, kini telah tiada. Walau demikian, ia tak mau berlama-lama tenggelam dalam kedukaan. Ibnu Abbas segera bangkit dari kedukaan. Meski Rasulullah telah berpulang, semangat jihad tak boleh berkurang. Maka ia pun mulai melakukan perburuan ilmu.
Didatanginya para sahabat senior. Ia bertanya pada mereka tentang apa saja yang perlu ditimbanya. Tak hanya itu, ia juga mengajak sahabat-sahabat yang seusia dengannya untuk belajar pula. Tapi sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Ibnu Abbas. Mereka merasa tidak yakin, apakah para sahabat senior itu mau memerhatikan mereka yang masih anak-anak.
Walau demikian, Ibnu Abbas tak patah arang. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah.
"Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?" kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka. "Tidak, akulah yang mesti mendatangi anda," jawabnya.
Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. "Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"
"Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir," demikian jawabnya.
Karena ketinggian ilmunya itulah, ia kerap menjadi kawan dan lawan diskusi para sahabat senior. Umar bin Al-Kathab misalnya, selalu memanggil Ibnu Abbas untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena keilmuannya. Sampai-sampai Amirul Mukminin kedua itu memberi julukan kepada Ibnu Abbas sebagai "pemuda tua".
Doa Rasulullah yang meminta kepada Allah agar menjadikan Ibnu Abbas sebagai seorang yang mengerti perkara agama telah terwujud kiranya. Ibnu Abbas adalah tempat bertanya karena kegemarannya bertanya. Ibnu Abbas tempat mencari ilmu karena kegemarannya terhadap ilmu.
Di usianya yang ke-71 tahun, Allah SWT memanggilnya. Saat itu umat Islam benar-benar kehilangan seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa. "Hari ini telah wafat ulama umat," kata Abu Hurairah menggambarkan rasa kehilangannya.
sumber: REPUBLIKA.CO.ID
"Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu."
Pemuda kecil itu termangu di depan Rasulullah. Ia memusatkan perhatian pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia paling mulia itu.
"Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepada-Nya. Jika kamu butuh pertolongan, memohonlah kepada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis."
Pemuda beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil, dalam sehari itu ia menerima banyak ilmu.
Bak kata pepatah, sekali dayung tiga empat pulau terlampaui, wejangan Rasulullah saat itu telah memenuhi rasa ingin tahunya. Pelajaran akidah, ilmu dan amal sekaligus ia terima dalam sekali pertemuan.
Keakraban dengan Rasulullah sejak kecil membuat Ibnu Abbas tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa. Keikhlasannya seluas padang pasir tempatnya tinggal. Keberanian dan gairah jihadnya sepanas sinar matahari gurun. Kasihnya seperti oase di tengah sahara.
Hidup bersama Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah.
Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.
Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. "Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu." Demikian doa Rasulullah.
Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Semasa hidupnya, Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan Abdullah bin Abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan sahabat-sahabat kecil lainnya.
Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang menjadi panutannya, kini telah tiada. Walau demikian, ia tak mau berlama-lama tenggelam dalam kedukaan. Ibnu Abbas segera bangkit dari kedukaan. Meski Rasulullah telah berpulang, semangat jihad tak boleh berkurang. Maka ia pun mulai melakukan perburuan ilmu.
Didatanginya para sahabat senior. Ia bertanya pada mereka tentang apa saja yang perlu ditimbanya. Tak hanya itu, ia juga mengajak sahabat-sahabat yang seusia dengannya untuk belajar pula. Tapi sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Ibnu Abbas. Mereka merasa tidak yakin, apakah para sahabat senior itu mau memerhatikan mereka yang masih anak-anak.
Walau demikian, Ibnu Abbas tak patah arang. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah.
"Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?" kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka. "Tidak, akulah yang mesti mendatangi anda," jawabnya.
Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. "Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"
"Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir," demikian jawabnya.
Karena ketinggian ilmunya itulah, ia kerap menjadi kawan dan lawan diskusi para sahabat senior. Umar bin Al-Kathab misalnya, selalu memanggil Ibnu Abbas untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena keilmuannya. Sampai-sampai Amirul Mukminin kedua itu memberi julukan kepada Ibnu Abbas sebagai "pemuda tua".
Doa Rasulullah yang meminta kepada Allah agar menjadikan Ibnu Abbas sebagai seorang yang mengerti perkara agama telah terwujud kiranya. Ibnu Abbas adalah tempat bertanya karena kegemarannya bertanya. Ibnu Abbas tempat mencari ilmu karena kegemarannya terhadap ilmu.
Di usianya yang ke-71 tahun, Allah SWT memanggilnya. Saat itu umat Islam benar-benar kehilangan seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa. "Hari ini telah wafat ulama umat," kata Abu Hurairah menggambarkan rasa kehilangannya.
sumber: REPUBLIKA.CO.ID
Thursday, 25 July 2013
Sampaikanlah Kepada Kaum Non Muslim bahwa Dien Mereka Sesat !
Abdullah Azzam
“ Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang orang musyrik membencinya.” (QS Ash Shaff 9).
Tiada petunjuk ataupun Dien yang benar kecuali dien ini. Jadi kita adalah satu satunya umat di muka bumi ini -Alhamdulillah- yang berpegang kepada Dien yang benar dan hak. Seluruh umat manusia beribadah di atas kesesatan, kendati pun mereka lebih banyak beribadah daripada kita…, orang orang Budha, orang orang Hindu , dan orang orang Nasrani lebih banyak mengerjakan ibadah daripada kita, bahkan mereka tidak kawin…Betapa penatnya para rahib rahib itu dalam menyiksa diri mereka sendiri??? Betapa payahnya mereka ??? Alangkah kerasnya mereka memperlakukan diri mereka sendiri , kendatipun mereka melakukan itu , mereka insyaAllah akan kekal di dalam neraka Jahanam !
Suatu ketika seorang rahib menemui Umar bin Khattab ra, Umar menangis tatkala melihat wajah sang rahib yang pucat lesu karena banyak melakukan ibadah, maka para sahabat bertanya,”Apa yang membuat anda menangis wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab,”Aku menangis karena melihat rahib itu, aku jadi teringat ayat Allah SWT :
88:3
88:4
“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka)” (QS Al Ghaasyiyah 3-4)
Jika kalian mengikuti bagaimana aktifitas para misionaris di Afrika, jika kamu mengamati aktifitas para juru rawat eropa di Afghanistan, lihatlah ! betapa payah kehidupan mereka? Bagaimana mereka harus menahan derita dan kepayahan, meneguk pahitnya kesusahan, dan menghadapi ancaman maut di tengah tengah kaum yang membenci kebangsaannya, membenci dien mereka, membenci bahasa mereka, membenci penampilan mereka, dan membenci warna mata mereka. Sekedar melihat mata mereka yang biru dan rambut yang pirang, maka itu sudah cukup membuat tubuh orang Afghan bergetar karena kebencian. Meski demikian mereka orang orang rahib eropa itu tetap saja masuk ke sana. Untuk apa? Untuk menyebarkan misi dien mereka !. dan kendatipun mereka bersusah payah demikian, mereka kelak insyaAllah tetap masuk dalam neraka jahanam.
Sedangkan kamu, wahai kaum Muslimin, pergimu di pagi hari atau sore hari untuk berjihad fi sabilillah saja lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Sementara mereka berpayah payah selama puluhan tahun namun tak mendapatkan manfaat apapun darinya. Musibah apalagi yang lebih besar daripada ini?
Kadang kamu temui salah seorang pendeta diantara mereka sepanjang hidupnya tidak pernah menikah, untuk apa? Untuk membuat ridho sang Al Masih, dan mengharapkan meraih surganya. Biarawati tidak menikah sepanjang hidupnya , tapi kamu lihat mereka selalu mengenakan cincin, mengisolir di dalam biara dan tidak bercampur gaul dengan masyarakat ramai…ada apa dibalik semua itu? Ia mengatakan ,”Demi Allah, saya telah meminang Al Masih, dan akan menikahinya di Surga.”
Ya begitulah keadaan para biarawati , padahal seorang mukmin yang mentauhidkan Allah, dan walau hanya bekerja sedikit dan Allah menerima amalnya, maka itu sudah cukup menjadikan Allah memasukkannya ke dalam surga, ini adalah nikmat yang amat besar dari Allah, yang dikaruniakan kepada umat Islam ini. -Dz-
sumber:eramuslim.com
“ Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang orang musyrik membencinya.” (QS Ash Shaff 9).
Tiada petunjuk ataupun Dien yang benar kecuali dien ini. Jadi kita adalah satu satunya umat di muka bumi ini -Alhamdulillah- yang berpegang kepada Dien yang benar dan hak. Seluruh umat manusia beribadah di atas kesesatan, kendati pun mereka lebih banyak beribadah daripada kita…, orang orang Budha, orang orang Hindu , dan orang orang Nasrani lebih banyak mengerjakan ibadah daripada kita, bahkan mereka tidak kawin…Betapa penatnya para rahib rahib itu dalam menyiksa diri mereka sendiri??? Betapa payahnya mereka ??? Alangkah kerasnya mereka memperlakukan diri mereka sendiri , kendatipun mereka melakukan itu , mereka insyaAllah akan kekal di dalam neraka Jahanam !
Suatu ketika seorang rahib menemui Umar bin Khattab ra, Umar menangis tatkala melihat wajah sang rahib yang pucat lesu karena banyak melakukan ibadah, maka para sahabat bertanya,”Apa yang membuat anda menangis wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab,”Aku menangis karena melihat rahib itu, aku jadi teringat ayat Allah SWT :
88:3
88:4
“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka)” (QS Al Ghaasyiyah 3-4)
Jika kalian mengikuti bagaimana aktifitas para misionaris di Afrika, jika kamu mengamati aktifitas para juru rawat eropa di Afghanistan, lihatlah ! betapa payah kehidupan mereka? Bagaimana mereka harus menahan derita dan kepayahan, meneguk pahitnya kesusahan, dan menghadapi ancaman maut di tengah tengah kaum yang membenci kebangsaannya, membenci dien mereka, membenci bahasa mereka, membenci penampilan mereka, dan membenci warna mata mereka. Sekedar melihat mata mereka yang biru dan rambut yang pirang, maka itu sudah cukup membuat tubuh orang Afghan bergetar karena kebencian. Meski demikian mereka orang orang rahib eropa itu tetap saja masuk ke sana. Untuk apa? Untuk menyebarkan misi dien mereka !. dan kendatipun mereka bersusah payah demikian, mereka kelak insyaAllah tetap masuk dalam neraka jahanam.
Sedangkan kamu, wahai kaum Muslimin, pergimu di pagi hari atau sore hari untuk berjihad fi sabilillah saja lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Sementara mereka berpayah payah selama puluhan tahun namun tak mendapatkan manfaat apapun darinya. Musibah apalagi yang lebih besar daripada ini?
Kadang kamu temui salah seorang pendeta diantara mereka sepanjang hidupnya tidak pernah menikah, untuk apa? Untuk membuat ridho sang Al Masih, dan mengharapkan meraih surganya. Biarawati tidak menikah sepanjang hidupnya , tapi kamu lihat mereka selalu mengenakan cincin, mengisolir di dalam biara dan tidak bercampur gaul dengan masyarakat ramai…ada apa dibalik semua itu? Ia mengatakan ,”Demi Allah, saya telah meminang Al Masih, dan akan menikahinya di Surga.”
Ya begitulah keadaan para biarawati , padahal seorang mukmin yang mentauhidkan Allah, dan walau hanya bekerja sedikit dan Allah menerima amalnya, maka itu sudah cukup menjadikan Allah memasukkannya ke dalam surga, ini adalah nikmat yang amat besar dari Allah, yang dikaruniakan kepada umat Islam ini. -Dz-
sumber:eramuslim.com
Syekh Nawawi Al Bantani Ulama Indonesia yang Menjadi Imam Masjidil Haram
Indonesia pernah memiliki seorang ulama ternama di jazirah Arab. Ia menjadi imam di Masjidil Haram, mengajar di Haramain, menulis buku yang tersebar di Timur Tengah.
Dialah Syekh Nawawi Al Bantani. Namanya sangat terkenal di Saudi hingga dijuluki “Sayyidul Hijaz”, yakni ulama di kawasan Hijaz. Kefakihannya dalam agama pun membuatnya dijuluki Nawawi kedua, maksudnya penerus ulama dunia terkenal, Imam Nawawi.
Nama dan gelar lengkap beliau, yakni Abu Abdullah Al-Mu'thi Muhammad Nawawi bin Umar Al-Tanari Al-Bantani Al-Jawi. Ia lahir di Kampung Pesisir Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi. Ayahnya, Umar bin Arabi, merupakan seorang ulama di Banten. Bahkan, ada kabar Syekh Nawawi merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Sultan Banten pertama, Maulana Hasanuddin. Syekh Nawawi juga dikabarakan masih memiliki jalur nasab dari Husein, cucu Rasulullah.
Sejak kecil, ia dibawah didikan sang ayah. Tak heran jika Nawawi kecil telah terbiasa dengan didikan agama. Tak hanya itu, ayahnya juga mengirimnya kepada temannya yang juga seorang ulama Banten, KH Sahal, dan seorang ulama di Purwakarta, KH Yusuf. Baru, pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi pergi ke Arab Saudi. Di tanah kelahiran Islam, ia memantapkan ilmu agamanya. Ulama besar Saudi menjadi gurunya.
Setelah tiga tahun menempa ilmu di Tanah Suci, Syekh Nawawi kembali ke Tanah Air. Tapi, saat pulang, ia tak senang dengan kondisi penjajahan Belanda. Ia kemudian kembali lagi ke Makkah dan menjadi penuntut ilmu. Sejak keberangkatan itu, ia tak lagi pulang ke Indonesia hingga akhir hayat.
Di Makkah, Syekh giat menghadiri majelis ilmu di Masjidil Haram. Hingga, kemudian seorang imam masjid utama tersebut, Syekh Ahmad Khatib Sambas meminta Nawawi untuk menggantikan posisinya. Maka, mulailah Syekh Nawawi menjadi pengajar dan membuka majelisnya sendiri di Masjidil Haram. Murid syekh berdatangan dengan jumlah yang banyak. Bahkan, beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia. Salah satu muridnya, yakni KH Hasyim Asy'ari pendiri Nadlatul Ulama (NU).
Syekh Nawawi mengabdikan hidupnya untuk mengajar. Ia pun terkenal giat menulis dan menghasilkan banyak karya. Sampai-sampai, banyak manuskripnya disebarkan bebas kemudian diterbitkan tanpa royalti. Sedikitnya, 34 tulisannya juga masuk dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Karya lainnya mencapai seratus buku dari berbagai cabang ilmu Islam.
Di antara bukunya yang terkenal, yakni Tafsir Marah Labid, Atsimar Al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, Al-Futuhat Al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin. Tak sedikit dari karya-karyanya yang diterbitkan di Timur Tengah. Universitas Al Azhar Kairo juga pernah mengundang syekh karena karya-karyanya yang digemari kalangan akademisi.
Buku-bukunya memang tersebar di Mesir. Di universitas Islam tertua itu, syekh menjadi pembicara dalam sebuah diskusi ilmiah.
Meski tak pernah mengajar di ranah nusantara, syekh menyebarkan ilmu melalui karya kepada masyarakat Indonesia. Karya-karyanya bahkan menjadi buku wajb di pesantren-pesantren. Bagi komunitas santri, Syekh Nawawi merupakan mahaguru yang banyak memberikan ilmu mengenai landasan beragama. Apalagi, ia juga merupakan guru dari sang pendiri NU. Sehingga, tak sedikit yang menyebut Syekh Nawawi sebagai akar tunjang tradisi intelektual ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Pemikiran
Syekh Nawawi sering kali menyatakan diri sebagai penganut paham Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, sebuah paham yang dilahirkan Abu Hasan Al Asyari dan Abu Manshur Al Maturidi. Keduanya merupakan kelompok yang memfokuskan diri pada pembelajaran sifat-sifat Allah. Dari Syekh Nawawi, paham tersebut pun kemudian tersebar di nusantara.
Adapun dalam mazhab fikih, syekh Nawawi memilih mengikuti Imam Syafi'i. Hal ini terlihat dari karya-karyanya dalam ilmu fikih. Syekh Nawawi juga mempelajari ilmu tasawuf dan mengajarkannya. Ia bahkan menulis sebuah karya yang menjadi rujukan utama seorang sufi. Imam Al Ghazali juga banyak memengaruhi pemikiran Syekh Nawawi.
Ulama nusantara ternama internasional ini wafat di Syeib A'li, pinggiran Kota Makkah, pada 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1879 Masehi. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman Ma'la. Hingga kini, masyarakat nusantara, terutama masyarakat Banten, selalu memperingati hari wafatnya setiap tahun.
Oleh Afriza Hanifa
sumber: republika.com
Dialah Syekh Nawawi Al Bantani. Namanya sangat terkenal di Saudi hingga dijuluki “Sayyidul Hijaz”, yakni ulama di kawasan Hijaz. Kefakihannya dalam agama pun membuatnya dijuluki Nawawi kedua, maksudnya penerus ulama dunia terkenal, Imam Nawawi.
Nama dan gelar lengkap beliau, yakni Abu Abdullah Al-Mu'thi Muhammad Nawawi bin Umar Al-Tanari Al-Bantani Al-Jawi. Ia lahir di Kampung Pesisir Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi. Ayahnya, Umar bin Arabi, merupakan seorang ulama di Banten. Bahkan, ada kabar Syekh Nawawi merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Sultan Banten pertama, Maulana Hasanuddin. Syekh Nawawi juga dikabarakan masih memiliki jalur nasab dari Husein, cucu Rasulullah.
Sejak kecil, ia dibawah didikan sang ayah. Tak heran jika Nawawi kecil telah terbiasa dengan didikan agama. Tak hanya itu, ayahnya juga mengirimnya kepada temannya yang juga seorang ulama Banten, KH Sahal, dan seorang ulama di Purwakarta, KH Yusuf. Baru, pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi pergi ke Arab Saudi. Di tanah kelahiran Islam, ia memantapkan ilmu agamanya. Ulama besar Saudi menjadi gurunya.
Setelah tiga tahun menempa ilmu di Tanah Suci, Syekh Nawawi kembali ke Tanah Air. Tapi, saat pulang, ia tak senang dengan kondisi penjajahan Belanda. Ia kemudian kembali lagi ke Makkah dan menjadi penuntut ilmu. Sejak keberangkatan itu, ia tak lagi pulang ke Indonesia hingga akhir hayat.
Di Makkah, Syekh giat menghadiri majelis ilmu di Masjidil Haram. Hingga, kemudian seorang imam masjid utama tersebut, Syekh Ahmad Khatib Sambas meminta Nawawi untuk menggantikan posisinya. Maka, mulailah Syekh Nawawi menjadi pengajar dan membuka majelisnya sendiri di Masjidil Haram. Murid syekh berdatangan dengan jumlah yang banyak. Bahkan, beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia. Salah satu muridnya, yakni KH Hasyim Asy'ari pendiri Nadlatul Ulama (NU).
Syekh Nawawi mengabdikan hidupnya untuk mengajar. Ia pun terkenal giat menulis dan menghasilkan banyak karya. Sampai-sampai, banyak manuskripnya disebarkan bebas kemudian diterbitkan tanpa royalti. Sedikitnya, 34 tulisannya juga masuk dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Karya lainnya mencapai seratus buku dari berbagai cabang ilmu Islam.
Di antara bukunya yang terkenal, yakni Tafsir Marah Labid, Atsimar Al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, Al-Futuhat Al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin. Tak sedikit dari karya-karyanya yang diterbitkan di Timur Tengah. Universitas Al Azhar Kairo juga pernah mengundang syekh karena karya-karyanya yang digemari kalangan akademisi.
Buku-bukunya memang tersebar di Mesir. Di universitas Islam tertua itu, syekh menjadi pembicara dalam sebuah diskusi ilmiah.
Meski tak pernah mengajar di ranah nusantara, syekh menyebarkan ilmu melalui karya kepada masyarakat Indonesia. Karya-karyanya bahkan menjadi buku wajb di pesantren-pesantren. Bagi komunitas santri, Syekh Nawawi merupakan mahaguru yang banyak memberikan ilmu mengenai landasan beragama. Apalagi, ia juga merupakan guru dari sang pendiri NU. Sehingga, tak sedikit yang menyebut Syekh Nawawi sebagai akar tunjang tradisi intelektual ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Pemikiran
Syekh Nawawi sering kali menyatakan diri sebagai penganut paham Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, sebuah paham yang dilahirkan Abu Hasan Al Asyari dan Abu Manshur Al Maturidi. Keduanya merupakan kelompok yang memfokuskan diri pada pembelajaran sifat-sifat Allah. Dari Syekh Nawawi, paham tersebut pun kemudian tersebar di nusantara.
Adapun dalam mazhab fikih, syekh Nawawi memilih mengikuti Imam Syafi'i. Hal ini terlihat dari karya-karyanya dalam ilmu fikih. Syekh Nawawi juga mempelajari ilmu tasawuf dan mengajarkannya. Ia bahkan menulis sebuah karya yang menjadi rujukan utama seorang sufi. Imam Al Ghazali juga banyak memengaruhi pemikiran Syekh Nawawi.
Ulama nusantara ternama internasional ini wafat di Syeib A'li, pinggiran Kota Makkah, pada 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1879 Masehi. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman Ma'la. Hingga kini, masyarakat nusantara, terutama masyarakat Banten, selalu memperingati hari wafatnya setiap tahun.
Oleh Afriza Hanifa
sumber: republika.com
Saturday, 29 June 2013
Mazhab Syafi’i
Mazhab Syafi’i merupakan mazhab yang paling banyak digunakan oleh umat muslim di Indonesia. Mazhab ini merupakan hasil ijtihad Imam Syafi’i. Beliau banyak mengembara dalam menceduk dan menimba ilmu. Imam Syafie dianggap seorang yang dapat memadukan antara hadits dan fikiran dan membentuk undang-undang fiqh. Beliau merupakan mujtadid pada abad ke-2 Hijriyah.
Syafi’i mempunyai dasar-dasar mazhab (ushul) dan kaidah (qaidah) yang secara langsung dicetuskan oleh pendirinya sendiri.
Ciri utama mazhab ini adalah pendapat lama (qaul qadim) dan pendapat baru (qaul jadid). Istilah yang melekat bagi Imam as-Syafi’i. Mazhab ini dianggap sebagai poros tengah yang mempertemukan dua kubu pemikiran fikih, yaitu kaum rasionalis (ahlu ar-ra’yi) dan tradisionalis (ahlu al-hadits).
Karenanya, tak mengherankan jika mazhab seperti ini akan terus mendapat perhatian besar dalam cakrawala dunia Islam karena telah mengakar kuat. Faktor ini pula yang kemudian menarik para pengikutnya untuk melakukan elaborasi pemikiran dalam dinamika dan tradisi kajian fikih, termasuk mengomparasikan serta mengkaji lebih jauh pandangan-pandangan fikih yang berlaku dalam mazhab Syafi’i dan mazhab lainnya.
Dasar-dasar Mazhab Syafi'i dapat dilihat dalam kitab ushul fiqh Ar-Risalah dan kitab fiqh al-Umm. Di dalam buku-buku tersebut Imam Syafi'i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far'iyyah (yang bersifat cabang).Dasar-dasar mazhab yang pokok ialah berpegang pada hal-hal berikut.
Al-Quran, tafsir secara lahiriah, selama tidak ada yang menegaskan bahwa yang dimaksud bukan arti lahiriahnya. Imam Syafi'i pertama sekali selalu mencari alasannya dari Al-Qur'an dalam menetapkan hukum Islam.
Sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian digunakan jika tidak ditemukan rujukan dari Al-Quran. Imam Syafi'i sangat kuat pembelaannya terhadap sunnah sehingga dijuluki Nashir As-Sunnah (pembela Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).
Ijma' atau kesepakatan para Sahabat Nabi, yang tidak terdapat perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Ijma' yang diterima Imam Syafi'i sebagai landasan hukum adalah ijma' para sahabat, bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum karena menurutnya hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
Qiyas yang dalam Ar-Risalah disebut sebagai ijtihad, apabila dalam ijma' tidak juga ditemukan hukumnya. Akan tetapi Imam Syafi'i menolak dasar istihsan dan istislah sebagai salah satu cara menetapkan hukum Islam.
Berbicara tentang Mazhab Syafi’i, mari mengenal Imam Syafi’i. Nama aslinya adalah Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al Muththalib bin Abdi Manaf. Gelar atau kunyah beliau adalah Abu Abdillah.
Biasanya orang Arab jika menulis nama mendahulukan gelar dari pada nama, sehingga disebut Abu Abdillah Muhammad bin Idris. Beliau lahir di Gaza, bagian selatan Palestina, pada tahun 150 Hijriyah, pertengahan abad kedua hijriyah.Sebagian ahli sejarah mengatakan Imam Syafi’i lahir di Asqalan, tetapi kedua perkataan itu tidaklah berbeda karena Gaza dahulunya adalah daerah Asqalan. Kampung halaman Imam Syafi’i bukan di Gaza (Palestina) tapi di Mekkah (Hijaz). Kedua orang tua beliau datang ke Gaza untuk sebuah keperluan, dan tidak lama beliau lahir di situ.Sewaktu Imam Syafi’i masih dalam kandungan, sang Bunda bermimpi bahwa sebuah bintang telah keluar dari perutnya dan terus naik membumbung tinggi, kemudian bintang itu berhamburan dan berserak menerangi daerah-daerah di sekelilingnya.Ahli mimpi pada saat itu memaknai mimpi itu bahwa ia akan melahirkan seorang putra yang ilmunya meliputi seluruh jagat. Dansekarang telah menjadi kenyataan bahwa ilmu Imam Syafi’i memang memenuhi dunia, bukan saja di tanah Arab, timur tengah dan Afrika, tetapi juga sampai kearah timur jauh, ke Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina dan lainnya.Beliau dilahirkan pada tahun 150 H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh Al Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit
eorang ulama di Baghdad (Pencetus Madzhab Hanafi).
****
Nasab Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushay. Abdul Manaf bin Qushay yang menjadi kakek ke-9 Imam Syafi’i adalah Abdul Manaf bin
Qushay yang juga menjadi kakek ke-4 Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Gelar “Asy Syafi’i” dari Imam Syafi’i rahimahullah diambil dari kakek ke-4 beliau yaitu Syafi’i bin Saib.Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi’i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah?”Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus.”Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih adab dan lain-lain.
Yaqut Al Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu An Nadim dalam Al Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah I, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan Ar Risalah Al
Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Al qran dan As Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.Begitulah kisah singkat beliau, dalam beberapa sumber kitab Manhaj Aqidah Imam Asy Syafi’i dikisahkan perjuangannya dalam menegakkan fiqih. Banyak murid-murid beliau yang menjadi para ulama, sebagaimana bintang terang yang berserakan cahayanya, salah satunya Imam Bukhari.Salah seorang guru fikih Syafi’i Imam Bukhari adalah Imam Al Humaidi, sahabat Imam Syafi’i yang belajar fiqkh kepada Imam Syafi’i ketika berada di Makkah. Beliau juga belajar fikih dan Hadis kepada Za’farani, Abu Thur dan Al Karabisi, ketiganya adalah murid Imam Syafi’i.Ada beberapa nasihat Imam Syafi’i yang sangat cocok dengan kondisi saat ini. “Lawanlah nafsu bicara dengan diam, hadapilah soal pelik dengan tafakur. Berpikir cermat berarti selamat, penyesalan dan keinsyafan menyebabkan kita menjadi waspada, musyawarah dengan orang-orang budiman akan memperkuat keyakinan”.
Dikatakan pula oleh beliau bahwa keutamaan itu ada empat yaitu (1) kebijaksanaan yang berpokok pada tafakur, (2) kesopanan yang berpokok pada penahanan nafsu, (3) kekuatan yang berpokok pada kekuatan yang sehat dan (4) keadilan yang berpokok pada keseimbangan jiwa.Subhanallah apa jadinya kita, jika tanpa perjuangan mereka para Imam. Alhamdulillah ilmu mereka bagaikan payung yang menaungi
oleh: wawan
diambil dari berbagai sumber
kita dari hujan kejahilan sampai saat ini. Baarakallahu fiikum
Syafi’i mempunyai dasar-dasar mazhab (ushul) dan kaidah (qaidah) yang secara langsung dicetuskan oleh pendirinya sendiri.
Ciri utama mazhab ini adalah pendapat lama (qaul qadim) dan pendapat baru (qaul jadid). Istilah yang melekat bagi Imam as-Syafi’i. Mazhab ini dianggap sebagai poros tengah yang mempertemukan dua kubu pemikiran fikih, yaitu kaum rasionalis (ahlu ar-ra’yi) dan tradisionalis (ahlu al-hadits).
Karenanya, tak mengherankan jika mazhab seperti ini akan terus mendapat perhatian besar dalam cakrawala dunia Islam karena telah mengakar kuat. Faktor ini pula yang kemudian menarik para pengikutnya untuk melakukan elaborasi pemikiran dalam dinamika dan tradisi kajian fikih, termasuk mengomparasikan serta mengkaji lebih jauh pandangan-pandangan fikih yang berlaku dalam mazhab Syafi’i dan mazhab lainnya.
Dasar-dasar Mazhab Syafi'i dapat dilihat dalam kitab ushul fiqh Ar-Risalah dan kitab fiqh al-Umm. Di dalam buku-buku tersebut Imam Syafi'i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far'iyyah (yang bersifat cabang).Dasar-dasar mazhab yang pokok ialah berpegang pada hal-hal berikut.
Al-Quran, tafsir secara lahiriah, selama tidak ada yang menegaskan bahwa yang dimaksud bukan arti lahiriahnya. Imam Syafi'i pertama sekali selalu mencari alasannya dari Al-Qur'an dalam menetapkan hukum Islam.
Sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian digunakan jika tidak ditemukan rujukan dari Al-Quran. Imam Syafi'i sangat kuat pembelaannya terhadap sunnah sehingga dijuluki Nashir As-Sunnah (pembela Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).
Ijma' atau kesepakatan para Sahabat Nabi, yang tidak terdapat perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Ijma' yang diterima Imam Syafi'i sebagai landasan hukum adalah ijma' para sahabat, bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum karena menurutnya hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
Qiyas yang dalam Ar-Risalah disebut sebagai ijtihad, apabila dalam ijma' tidak juga ditemukan hukumnya. Akan tetapi Imam Syafi'i menolak dasar istihsan dan istislah sebagai salah satu cara menetapkan hukum Islam.
Berbicara tentang Mazhab Syafi’i, mari mengenal Imam Syafi’i. Nama aslinya adalah Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al Muththalib bin Abdi Manaf. Gelar atau kunyah beliau adalah Abu Abdillah.
Biasanya orang Arab jika menulis nama mendahulukan gelar dari pada nama, sehingga disebut Abu Abdillah Muhammad bin Idris. Beliau lahir di Gaza, bagian selatan Palestina, pada tahun 150 Hijriyah, pertengahan abad kedua hijriyah.Sebagian ahli sejarah mengatakan Imam Syafi’i lahir di Asqalan, tetapi kedua perkataan itu tidaklah berbeda karena Gaza dahulunya adalah daerah Asqalan. Kampung halaman Imam Syafi’i bukan di Gaza (Palestina) tapi di Mekkah (Hijaz). Kedua orang tua beliau datang ke Gaza untuk sebuah keperluan, dan tidak lama beliau lahir di situ.Sewaktu Imam Syafi’i masih dalam kandungan, sang Bunda bermimpi bahwa sebuah bintang telah keluar dari perutnya dan terus naik membumbung tinggi, kemudian bintang itu berhamburan dan berserak menerangi daerah-daerah di sekelilingnya.Ahli mimpi pada saat itu memaknai mimpi itu bahwa ia akan melahirkan seorang putra yang ilmunya meliputi seluruh jagat. Dansekarang telah menjadi kenyataan bahwa ilmu Imam Syafi’i memang memenuhi dunia, bukan saja di tanah Arab, timur tengah dan Afrika, tetapi juga sampai kearah timur jauh, ke Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina dan lainnya.Beliau dilahirkan pada tahun 150 H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh Al Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit
eorang ulama di Baghdad (Pencetus Madzhab Hanafi).
****
Nasab Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdi Manaf bin Qushay. Abdul Manaf bin Qushay yang menjadi kakek ke-9 Imam Syafi’i adalah Abdul Manaf bin
Qushay yang juga menjadi kakek ke-4 Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Gelar “Asy Syafi’i” dari Imam Syafi’i rahimahullah diambil dari kakek ke-4 beliau yaitu Syafi’i bin Saib.Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi’i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah?”Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus.”Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih adab dan lain-lain.
Yaqut Al Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu An Nadim dalam Al Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah I, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan Ar Risalah Al
Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Al qran dan As Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.Begitulah kisah singkat beliau, dalam beberapa sumber kitab Manhaj Aqidah Imam Asy Syafi’i dikisahkan perjuangannya dalam menegakkan fiqih. Banyak murid-murid beliau yang menjadi para ulama, sebagaimana bintang terang yang berserakan cahayanya, salah satunya Imam Bukhari.Salah seorang guru fikih Syafi’i Imam Bukhari adalah Imam Al Humaidi, sahabat Imam Syafi’i yang belajar fiqkh kepada Imam Syafi’i ketika berada di Makkah. Beliau juga belajar fikih dan Hadis kepada Za’farani, Abu Thur dan Al Karabisi, ketiganya adalah murid Imam Syafi’i.Ada beberapa nasihat Imam Syafi’i yang sangat cocok dengan kondisi saat ini. “Lawanlah nafsu bicara dengan diam, hadapilah soal pelik dengan tafakur. Berpikir cermat berarti selamat, penyesalan dan keinsyafan menyebabkan kita menjadi waspada, musyawarah dengan orang-orang budiman akan memperkuat keyakinan”.
Dikatakan pula oleh beliau bahwa keutamaan itu ada empat yaitu (1) kebijaksanaan yang berpokok pada tafakur, (2) kesopanan yang berpokok pada penahanan nafsu, (3) kekuatan yang berpokok pada kekuatan yang sehat dan (4) keadilan yang berpokok pada keseimbangan jiwa.Subhanallah apa jadinya kita, jika tanpa perjuangan mereka para Imam. Alhamdulillah ilmu mereka bagaikan payung yang menaungi
oleh: wawan
diambil dari berbagai sumber
kita dari hujan kejahilan sampai saat ini. Baarakallahu fiikum
KH Yusuf Mansur: Sedekah, Investasi Dunia Akhirat
Ustazd Yusuf Mansur
Ada banyak fungsi dan peran vital dari sedekah dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sedekah, kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Ketapang, Cipondoh, Tangerang, KH Yusuf Mansur, adalah kebutuhan pokok tiap manusia.
Di level sosial, sedekah mengikis kesenjangan antara yang miskin dan kaya. “Sedekah mendekatkan hati mereka,” katanya. Berikut perbincangan lengkap pencetus Wisata Hati itu kepada wartawan Republika Nashih Nashrullah seputar sedekah.
Apa hakikat dan urgensi sedekah?
Sedekah hakikatnya adalah kebutuhan pokok setiap manusia sebagaimana sandang, papan, pangan. Sebab, sedekah adalah investasi dunia dan akhirat. Namun, balasan dunia-akhirat hanya diberikan kepada Muslim. Begitu banyaknya fungsi dan ganjaran sedekah bagi ahli sedekah,
Selain itu, sedekah jelas penting bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Meringankan beban kaum dhuafa yang makin berat dengan kenaikan harga BBM, mendekatkan hati kaum kaya dan miskin ketika kesenjangan sosial yang makin lebar.
Langkah itu sudah kita tempuh dengan menghidupkan kerja sama yang produktif. Seperti, lewat program Sedekah Sawah yang sudah panen perdana sayuran dan padi organik enam hektare di Kadudampit Sukabumi, Jawa Barat. Targetnya dapat mencetak satu juta ha sawah.
Sejauh mana potensi sedekah menurut Anda?
Alhamdulillah, bangsa kita termasuk bangsa yang gemar bersedekah. Potensi sedekah sangat luar biasa besarnya. Sebab, sedekah selain ada yang wajib dan terbatas, juga ada sedekah sunah yang tidak terbatas. Jadi, jika potensi zakat (sedekah wajib) cuma sekian triliun rupiah setahun, potensi sedekah lebih besar lagi.
Jangan takut kehabisan orang yang layak menerima sedekah sebagaimana pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sehingga, dengan kekuatan sedekah, kita dapat mencoba bangkit dan mandiri.
Bagaimana menumbuhkan kesadaran bersedekah?
Kita pakai cara tabsyir, yaitu menebarkan kabar gembira dari Allah SWT dan Rasulullah SAW tentang ganjaran dan kedahsyatan sedekah. Misalnya, dengan sedekah, Allah akan menambah rezeki yang banyak, halal dan berkah, menyembuhkan penyakit, memanjangkan umur, mendorong terkabulnya doa dan harapan, menolak bala, dan lain sebagainya.
Hal ini kita sampaikan melalui testimoni para pelaku sedekah yang sudah membuktikan kedahsyatan sedekah. Buku kumpulan testimoni sedekah sudah diterbitkan PPPA Daarul Qur’an sebanyak dua jilid. Silakan dirujuk.
Apa cita-cita dari kampanye sedekah Anda?
Kita punya dream, punya mimpi, untuk mencetak kader pemimpin bangsa di segala bidang yang hafal Alquran, cita-cita ini kita kembangkan melalui Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an yang kita dirikan di beberapa daerah. Yang kedua, kita sedang mengembangkan sedekah produktif, seperti program Sedekah Sawah tadi itu. Dan, masih banyak program produktif unggulan lainnya.
Dua hal tersebut, mudah-mudahan membuat publik semakin percaya akan kedahsyatan sedekah dan menjadikan sedekah sebagai kebutuhan pokok mereka.
sumber:www.REPUBLIKA.CO.ID,
Ada banyak fungsi dan peran vital dari sedekah dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sedekah, kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Ketapang, Cipondoh, Tangerang, KH Yusuf Mansur, adalah kebutuhan pokok tiap manusia.
Di level sosial, sedekah mengikis kesenjangan antara yang miskin dan kaya. “Sedekah mendekatkan hati mereka,” katanya. Berikut perbincangan lengkap pencetus Wisata Hati itu kepada wartawan Republika Nashih Nashrullah seputar sedekah.
Apa hakikat dan urgensi sedekah?
Sedekah hakikatnya adalah kebutuhan pokok setiap manusia sebagaimana sandang, papan, pangan. Sebab, sedekah adalah investasi dunia dan akhirat. Namun, balasan dunia-akhirat hanya diberikan kepada Muslim. Begitu banyaknya fungsi dan ganjaran sedekah bagi ahli sedekah,
Selain itu, sedekah jelas penting bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Meringankan beban kaum dhuafa yang makin berat dengan kenaikan harga BBM, mendekatkan hati kaum kaya dan miskin ketika kesenjangan sosial yang makin lebar.
Langkah itu sudah kita tempuh dengan menghidupkan kerja sama yang produktif. Seperti, lewat program Sedekah Sawah yang sudah panen perdana sayuran dan padi organik enam hektare di Kadudampit Sukabumi, Jawa Barat. Targetnya dapat mencetak satu juta ha sawah.
Sejauh mana potensi sedekah menurut Anda?
Alhamdulillah, bangsa kita termasuk bangsa yang gemar bersedekah. Potensi sedekah sangat luar biasa besarnya. Sebab, sedekah selain ada yang wajib dan terbatas, juga ada sedekah sunah yang tidak terbatas. Jadi, jika potensi zakat (sedekah wajib) cuma sekian triliun rupiah setahun, potensi sedekah lebih besar lagi.
Jangan takut kehabisan orang yang layak menerima sedekah sebagaimana pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sehingga, dengan kekuatan sedekah, kita dapat mencoba bangkit dan mandiri.
Bagaimana menumbuhkan kesadaran bersedekah?
Kita pakai cara tabsyir, yaitu menebarkan kabar gembira dari Allah SWT dan Rasulullah SAW tentang ganjaran dan kedahsyatan sedekah. Misalnya, dengan sedekah, Allah akan menambah rezeki yang banyak, halal dan berkah, menyembuhkan penyakit, memanjangkan umur, mendorong terkabulnya doa dan harapan, menolak bala, dan lain sebagainya.
Hal ini kita sampaikan melalui testimoni para pelaku sedekah yang sudah membuktikan kedahsyatan sedekah. Buku kumpulan testimoni sedekah sudah diterbitkan PPPA Daarul Qur’an sebanyak dua jilid. Silakan dirujuk.
Apa cita-cita dari kampanye sedekah Anda?
Kita punya dream, punya mimpi, untuk mencetak kader pemimpin bangsa di segala bidang yang hafal Alquran, cita-cita ini kita kembangkan melalui Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an yang kita dirikan di beberapa daerah. Yang kedua, kita sedang mengembangkan sedekah produktif, seperti program Sedekah Sawah tadi itu. Dan, masih banyak program produktif unggulan lainnya.
Dua hal tersebut, mudah-mudahan membuat publik semakin percaya akan kedahsyatan sedekah dan menjadikan sedekah sebagai kebutuhan pokok mereka.
sumber:www.REPUBLIKA.CO.ID,
Thursday, 27 June 2013
Keuntungan Memasuki Islam
Betapa beruntungnya seorang manusia yang memeluk agama Allah ta’aala, yaitu Al-Islam. Sebab semenjak ia masuk Islam maka semua perbuatan yang ia lakukan mulai mendapat perhitungan serta ganjaran kebaikan di sisi Allah ta’aala.Adapun orang yang kafir, maka apapun yang ia kerjakan di dunia tidak akan memperoleh balasan kebaikan dari Allah ta’aala. Mengapa? Sebab mereka telah mengingkari perkara yang palingmendasar dalam kehidupan, yaitu ke-imanan kepada Allah ta’aala. Di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa semua yang mereka kerjakan akan terhapus dari catatan rekening amal mereka. Bahkan ditegaskan bahwa mereka bakal menjadi orang-orang yang merugi kelak di akhirat.
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي
الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa yang kafir terhadap keimanan, maka hapuslah
amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”
(QS Al-Maaidah ayat 5)
Ironisnya lagi, orang-orang kafir tersebut menyangka bahwa mereka telah berbuat kebaikan sewaktu di dunia sehingga mereka sudah berharap akan memperoleh surga di akhirat setelah mereka mati. Padahal justru ketika di akhirat itulah mereka baru sadar betapa celakanya mereka. Dan mereka baru sadar bahwa diri mereka sewaktu di dunia berada dalam kesesatan dan kekeliruan.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ
ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ
الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ
رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ
لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنً
Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang
yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka
dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah
amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian
bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS Al-Kahfi ayat 105)
Semua itu terjadi lantaran orang kafir mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah ta’aala dan mereka tidak pernah secara sungguh-sungguh mempercayai akan datangnya hari perjumpaan dengan Allah ta’aala. Hari di mana manusia bakal mempertanggung-jawabkan segala apa yang telah dikerjakannya sewaktu di dunia. Bilamana ada orang yang mengajak mereka agar beriman kepada Allah ta’aala dan hari Akhir mereka kemudian mentertawakannya serta mendustakannya.
Maka pada hari Berbangkit kelak orang-orang kafir akan menyesali segala salah sikap yang mereka perlihatkan sewaktu di dunia dahulu. Bahkan mereka berkeinginan kuat untuk membayar apapun,
seandainya mungkin, agar mereka dapat terlepas dari siksaan Allah ta’aala.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ
جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ
مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai
apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu
(pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari
kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka,
dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)
Penyesalan orang kafir sedemikian rupa pada hari itu sehingga mereka menuntut kepada Allah ta’aala agar dapat dikembalikan ke dunia agar mereka dapat meralat salah langkah mereka sewaktu di dunia. Bahkan mereka mengakui bahwa mereka telah keliru karena tidak mau meyakini kebenaran Allah ta’aala dan Rasul-Nya sewaktu di dunia. Suatu keyakinan yang munculnya sangat terlambat. Suatu keyakinan yang sudah tidak membawa manfaat apapun bagi mereka pada hari Berbangkit tersebut, kecuali azab Allah ta’aala.
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ
رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ
صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika
orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan
Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat
dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan
mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
yakin.” (QS As-Sajdah ayat 12)
Maka, saudaraku, alangkah beruntungnya manusia yang memperoleh hidayah iman dan Islam di dunia. Sebab apapun kebaikan yang ia kerjakan bakal mendatangkan balasan kebaikan dari Allah ta’aala yang berlipat kali. Sementara kejahatan yang ia kerjakan hanya dibalas Allah ta’aala setimpal dengan kejahatan tersebut.
إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ يُكَفِّرُ اللَّهُ
عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا
وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ
ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ
عَنْهَا
“Apabila seseorang masuk Islam kemudian Islamnya menjadi baik,
niscaya Allah akan menghapus segala kejahatan yang telah
dilakukan. Setelah itu, ia akan diberi balasan yaitu setiap
kebaikannya akan dibalas Allah sepuluh sampai tujuh ratus kali.
Sedangkan kejahatannya dibalas (hanya) setimpal kejahatannya itu,
kecuali jika Allah memaafkannya.” (HR Bukhary 1/72)
Maka sudah sepantasnya –sebagai ungkapan rasa syukur- kita ummat Islam berusaha keras mengajak siapapun ke jalan Allah ta’aala ini. Sampaikan kepada mereka: ”Aslim, taslam… Masuklah Islam-lah
engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan di akhirat.” Jangan hendaknya kita biarkan teman kerja kita di kantor, atau tetangga kita di rumah atau bahkan saudara kita yang non-muslim hidup tanpa iman dan Islam. Mumpung mereka masih hidup, mumpung kita masih diberi umur oleh Allah ta’aala. Marilah, saudaraku, kita da’wahi mereka ke jalan hidup yang sungguh akan menghantarkan mereka dan kita bersama kepada keselamatan
sumber: eramuslim.com
fid-dunya wal aakhirah.
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي
الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa yang kafir terhadap keimanan, maka hapuslah
amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”
(QS Al-Maaidah ayat 5)
Ironisnya lagi, orang-orang kafir tersebut menyangka bahwa mereka telah berbuat kebaikan sewaktu di dunia sehingga mereka sudah berharap akan memperoleh surga di akhirat setelah mereka mati. Padahal justru ketika di akhirat itulah mereka baru sadar betapa celakanya mereka. Dan mereka baru sadar bahwa diri mereka sewaktu di dunia berada dalam kesesatan dan kekeliruan.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ
ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ
الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ
رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ
لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنً
Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang
yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka
dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah
amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian
bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS Al-Kahfi ayat 105)
Semua itu terjadi lantaran orang kafir mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah ta’aala dan mereka tidak pernah secara sungguh-sungguh mempercayai akan datangnya hari perjumpaan dengan Allah ta’aala. Hari di mana manusia bakal mempertanggung-jawabkan segala apa yang telah dikerjakannya sewaktu di dunia. Bilamana ada orang yang mengajak mereka agar beriman kepada Allah ta’aala dan hari Akhir mereka kemudian mentertawakannya serta mendustakannya.
Maka pada hari Berbangkit kelak orang-orang kafir akan menyesali segala salah sikap yang mereka perlihatkan sewaktu di dunia dahulu. Bahkan mereka berkeinginan kuat untuk membayar apapun,
seandainya mungkin, agar mereka dapat terlepas dari siksaan Allah ta’aala.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ
جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ
مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai
apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu
(pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari
kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka,
dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)
Penyesalan orang kafir sedemikian rupa pada hari itu sehingga mereka menuntut kepada Allah ta’aala agar dapat dikembalikan ke dunia agar mereka dapat meralat salah langkah mereka sewaktu di dunia. Bahkan mereka mengakui bahwa mereka telah keliru karena tidak mau meyakini kebenaran Allah ta’aala dan Rasul-Nya sewaktu di dunia. Suatu keyakinan yang munculnya sangat terlambat. Suatu keyakinan yang sudah tidak membawa manfaat apapun bagi mereka pada hari Berbangkit tersebut, kecuali azab Allah ta’aala.
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ
رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ
صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika
orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan
Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat
dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan
mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
yakin.” (QS As-Sajdah ayat 12)
Maka, saudaraku, alangkah beruntungnya manusia yang memperoleh hidayah iman dan Islam di dunia. Sebab apapun kebaikan yang ia kerjakan bakal mendatangkan balasan kebaikan dari Allah ta’aala yang berlipat kali. Sementara kejahatan yang ia kerjakan hanya dibalas Allah ta’aala setimpal dengan kejahatan tersebut.
إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ يُكَفِّرُ اللَّهُ
عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا
وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ
ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ
عَنْهَا
“Apabila seseorang masuk Islam kemudian Islamnya menjadi baik,
niscaya Allah akan menghapus segala kejahatan yang telah
dilakukan. Setelah itu, ia akan diberi balasan yaitu setiap
kebaikannya akan dibalas Allah sepuluh sampai tujuh ratus kali.
Sedangkan kejahatannya dibalas (hanya) setimpal kejahatannya itu,
kecuali jika Allah memaafkannya.” (HR Bukhary 1/72)
Maka sudah sepantasnya –sebagai ungkapan rasa syukur- kita ummat Islam berusaha keras mengajak siapapun ke jalan Allah ta’aala ini. Sampaikan kepada mereka: ”Aslim, taslam… Masuklah Islam-lah
engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan di akhirat.” Jangan hendaknya kita biarkan teman kerja kita di kantor, atau tetangga kita di rumah atau bahkan saudara kita yang non-muslim hidup tanpa iman dan Islam. Mumpung mereka masih hidup, mumpung kita masih diberi umur oleh Allah ta’aala. Marilah, saudaraku, kita da’wahi mereka ke jalan hidup yang sungguh akan menghantarkan mereka dan kita bersama kepada keselamatan
sumber: eramuslim.com
fid-dunya wal aakhirah.
Subscribe to:
Posts (Atom)





