for better life Headline Animator

Wednesday, 31 July 2013

Perbanyaklah Membaca Doa Ini di Malam Lailatul Qadar

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah, keluarga

dan para sahabatnya.


Allahumma Innaka 'Afuwwun, Tuhibbul 'Afwa, Fa'fu 'Anni

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf dan senang memaafkan,

maka maafkanlah

Dianjurkan untuk membanyak doa pada malam yang agung ini,

Lailatul Qadar. Doa apa saja yang mengandung kebaikan dunia dan

akhirat. Karena Lailatul Qadar termasuk waktu mustajab.

Khususnya doa istimewa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu

'Alaihi Wasallam kepada Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahu

'Anha. Yaitu saat 'Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah,

bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa

yang harus aku baca?” kemudian Beliau Shallallahu 'Alaihi

Wasallam menjawab, “Ucapkanlah:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf dan senang memaafkan,

maka maafkanlah kesalahanku.” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan

Ahmad. Imam al-Tirmidzi dan al-Hakim menshahihkannya)

Nama Allah "Al-'Afuww" (Mahapemaaf)

Nama Allah "Al-'Afuww" disebutkan lima kali dalam Al-Qur'an.

Pertama, disebutkan bersama nama-Nya "Al-Qadir".

“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau

memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya

Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. Al-Nisa': 149)

terkadang seseorang memaafkan kesalahan orang lain karena dia

tidak mampu membalas atas keburukannya. Namun Allah Subhanahu

wa Ta'ala menyebutkan, Dia memaafkan, padahal Dia kuasa

membalas keburukan (dosa) hamba. Maka ini adalah pemberian maaf

yang sebenarnya dan sangat istimewa.

Kedua, penyebutan nama al-'Afuww yang lainnya digandeng dengan

nama-Nya Al-Ghafur.

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS.

Al-Nisa': 43)

“Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya.  Dan adalah

Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Nisa': 99)

Ayat-ayat yang menyebutkan nama Allah "Al-'Afuww" yang memiliki

sifat pemberi maaf, sesungguhnya menunjukkan bahwa Allah

senantiasa dikenal bersifat pemaaf. Senantiasa mengampuni dan

memberi maaf kepada hamba-hamba-Nya, walau mereka sering

berdosa kepada-Nya. Mereka sangat berhajat kepada maaf-Nya

sebagaimana mereka berhajat kepada rahmat dan kemurahan-Nya.

Bahkan bisa dikatakan, kebutuhan mereka kepada maaf Allah lebih

daripada kebutuhan mereka kepada makan dan minum. Kenapa?

Karena kalau tidak memberikan maaf kepada penduduk bumi,

niscaya hancur dan binasalah mereka semua dengan dosa-dosa

mereka.

Sifat maaf Allah adalah maaf yang lengkap, lebih luas dari

dosa-dosa yang dilakukan hamba-Nya. Apalagi kalau mereka datang

dengan istighfar, taubat, iman, dan amal-amal shalih yang

menjadi sarana untuk mendapatkan maaf Allah. Sesungguhnya tidak

ada yang bisa menerima taubat para hamba dan memaafkan

kesalahan mereka dengan sempurna kecuali Allah Subhanahu wa

Ta'ala.

Makna Nama Allah "Al-‘Afuww"

Kalimat 'afaa, secara bahasa –sebagaimana yang disebutkan dalam

kamus- memiliki dua makna: Pertama, memberi dengan penuh

kerelaan. Ini seperti kalimat, "A'thaituhu min maali 'afwan",

maknanya: aku beri dia sebagian dari hartaku yang berharga

dengan penuh kerelaan tanpa diminta. Ini seperti firman Allah

Ta'ala:

"Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.

Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan"." (QS. Al-Baqarah: 219)

sehingga itu dikeluarkan dengan penuh keridhaan. Wallahu a'lam.

Kedua, al-izalah (menghilangkan/menghapus). Seperti kalimat,

"'Afatir riihu al-atsara" artinya: angin telah

menghilangkan/menghapus jejak. Contoh nyata terdapat dalam

catatan sirah nabawiyah (sejarah perjalanan hidup Nabi

Shallallahu 'Alaihi Wasallam) tentang perjalanan hijrah: Saat

beliau bersembunyi di goa Tsur bersama Abu Bakar, adalah Asma'

binti Abu Bakar membawakan makanan untuk keduanya. Maka

terdapat dalam catatan:

“Maka ia memerintahkan budaknya agar menghilangkan/menghapus

jejak kaki Asma' sehingga orang-orang kafir tidak tahu jalur

yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.”

Maka ada tiga kandungan dalam nama Allah "Al-'Afuww' ini:

Menghilangkan dan menghapuskan, lalu ridha, kemudian memberi.

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menghilangkan, menghapuskan

dosa-dosa hamba-Nya dan bekas dosa tersebut. Lalu Allah

meridhai mereka. Kemudian sesudah meridhai, Dia memberi yang

terbaik (maaf) tanpa mereka memintanya.

Mewujudkan maaf ini seorang hamba diperintahkan untuk memiliki

sifat pemaaf. Tidak membalas keburukan orang lain terhadap

dirinya dengan keburukan serupa, apalagi dengan keburukan yang

lebih besar. Tapi ia sabar-sabarkan diri dari marah atas sikap

buruk orang lain terhadap dirinya, lalu ia maafkan

kesalahn-kesalahan mereka, dan ia balas keburukan dengan

kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka

Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas

(tanggungan) Allah.  Sesungguhnya Dia tidak menyukai

orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Syuura: 40)

Maksud “maka Pahalanya atas Allah”: Allah tidak akan

menyia-nyiakan sikapnya itu di sisi-Nya. Tetapi Allah akan

memberikan pahala yang besar dan balasan baik yang setimpal.

Disebutkan dalam hadits shahih Muslim, "Tidaklah Allah menambah

kepada hamba melalui maaf yang ia berikan kecuali kemuliaan."

Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, rabb semesta alam.

Shalawat dan salam terlimpah dan tercurah kepada manusia

pilihan, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga

dan para sahabatnya.

Lailatul Qadar adalah malam yang agung. Malam penuh kemuliaan.

Ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah selama seribu

bulan. Siapa yang mendapatkan kemuliaannya sungguh ia manusia

beruntung dan dirahmati. Sebaliknya, siapa yang luput dari

kebaikan di dalamnya, sungguh ia termasuk manusia buntung dan

merugi.

Kemuliaan Lailatul Qadar yang penuh keberkahan dapat dilihat

dari pilihan Allah terhadapnya untuk menurunkan kitab

terbaik-Nya dan syariat agama-Nya yang paling mulia. Allah

Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam

kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam

kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turun

malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya

untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan

sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadar: 1-5)

Sesungguhnya Lailatul Qadar tidak seperti malam-malam

selainnya. Pahala amal shalih di dalamnya sangat besar. Maka

siapa yang diharamkan mendapatkan pahalanya, sungguh  ia tidak

mendapatkan kebaikan malam itu. Oleh karenanya, sudah

sewajarnya seorang muslim menghidupkan malam tersebut dengan

bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah

secara maksimal. Dan menghidupkannya harus didasarkan kepada

iman dan berharap pahala kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Disebutkan dalam hadits shahih:

"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan

imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala),

diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan

Muslim)

Dalam redaksi lain,

"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di Lailatul Qadar

imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala),

diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan

Muslim)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan tentang

waktu turunnya Lailatul Qadar tersebut. Beliau bersabda,

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir dari

Ramadhan." (Muttafaq 'alaih)

Lalu beliau menjelaskan lebih rinci lagi tentang waktunya dalam

sabdanya,

"Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari

terakhir dari Ramadhan." (HR. Al-Bukhari)

Yaitu malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan secara hakiki.

Yakni malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Lalu sebagian ulama

merajihkan (menguatkan), Lailatul Qadar berpiindah-pindah dari

dari satu malam ke malam ganjil lainnya pada setiap tahunnya.

Lailatul Qadar tidak melulu pada satu malam tertentu pada

setiap tahunnya.

Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: "Ini adalah yang zahir dan

terpilih karena bertentangan di antara hadits-hadits shahih

dalam masalah itu. tidak ada jalan untuk menjama'

(mengompromikan) di antara dalil-dalil tersebut kecuali dengan

intiqal (berpindah-pindah)-nya."

Syaikh Abu Malik Kamal dalam Shahih Fiqih Sunnah memberikan

catatan terhadap pendapat-pendapat tentang Lailatul Qadar di

atas, "Yang jelas, menurutku, Lailatul Qadar terdapat pada

malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir dan

berpindah-pindah di malam-malam tersebut. Ia tidak khusus hanya

pada malam ke 27 saja. Adapun yang disebutkan oleh Ubay,

Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 27, ini terjadi dalam suatu

tahun dan bukan berarti terjadi pada semua tahun. Buktinya,

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mendapatinya pada

malam ke 21, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa'id

Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

berkhutbah kepada mereka seraya mengatakan:

"Sungguh aku telah diperlihatkan Lailatul Qadar, kemudian

terlupakan olehku. Oleh sebab itu, carilah Lailatul Qadar pada

sepuluh hari terakhir pada setiap malam ganjilnya. Pada saat

itu aku merasa bersujud di air dan lumpur."

Abu Sa'id berkata: "Hujan turun pada malam ke 21, hingga air

mengalir menerpa tempat shalat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi

Wasallam. Seusai shalat aku melihat wajah beliau basah terkena

lumpur. (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

Demikian kumpulan hadits yang menyinggung tentang masalah

Lailatul Qadar. Wallahu A'lam." (Selesai ulasan dari Shahih

Fiqih Sunnah: III/202-203)

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ithaf al-Kiram

(Ta'liq atas Bulughul Maram) hal 197, mengatakan, "Pendapat

yang paling rajih dan paling kuat dalilnya adalah ia berada

pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Ia bisa

berpindah-pindah, terkadang di malam ke 21, terkadang pada

malam ke 23, terkadang pada malam ke 25, terkadang pada malam

ke 27, dan terkadang pada malam ke 29. Adapun penetapan

terhadap beberapa malam secara pasti, sebagaimana yang terdapat

dalam hadits ini (hadits Mu'awiyah bin Abi Sufyan), ia di malam

ke 27, dan sebagaimana dalam beberapa hadits lain, ia berada di

malam 21 dan 23, maka itu pada tahun tertentu, tidak pada

setiap tahun. Tetapi perkiraan orang yang meyakininya itu

berlaku selamanya, maka itu pendapat mereka sesuai dengan

perkiraan mereka. Dan terjadi perbedaan pendapat yang banyak

dalam penetapannya."

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Disebutkan juga oleh Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah bahwa

Lailatul Qadar memiliki beberapa tanda-tanda yang mengiringinya

dan tanda-tanda yang datang kemudian.

Tanda-tanda yang megiringi Lailatul Qadar:

    Kuatnya cahaya dan sinar pada malam itu, tanda ini ketika

hadir tidak dirasakan kecuali oleh orang yang berada di daratan

dan jauh dari cahaya.
    Thama'ninah (tenang), maksudnya ketenangan hati dan

lapangnya dada seorang mukmin. Dia mendapatkan ketenanangan dan

ketentraman serta lega dada pada malam itu lebih banyak dari

yang didapatkannya pada malam-malam selainnya.
    Angin bertiup tenang, maksudnya tidak bertiup kencang dan

gemuruh, bahkan udara pada malam itu terasa sejuk.
    Terkadang manusia bisa bermimpi melihat Allah pada malam

itu sebagaimana yang dialami sebagian sahabat radliyallah

'anhum.
    Orang yang shalat mendapatkan kenikmatan yang lebih dalam

shalatnya dibandingkan malam-malam selainnya.

Tanda-tanda yang mengikutinya:

Matahari akan terbit pada pagi harinya tidak membuat silau,

sinarnya bersih tidak seperti hari-hari biasa. Hal itu

ditunjukkan oleh hadits Ubai bin Ka'b radliyallah 'anhu dia

berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan

kepada kami: "Matahari terbit pada hari itu tidak membuat

silau." (HR. Muslim)         

Penutup

Siapa yang merindukan Lailatul Qadar hendaknya ia

bersungguh-sungguh dalam sisa hari Ramadhan ini, khususnya di

sepuluh hari terakhirnya. Semoga satu dari sepuluh malam

terakhir yang kita hidupkan tersebut adalah Lailatul Qadar.

Sehingga kita mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar.

Selain itu, esungguhan ini adalah bentuk iqtida' (mengikuti dan

mencontoh) Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. kita

juga memperbanyak doa dan pengharapan kepada-Nya untuk kebaikan

diri kita, keluarga, dan kaum muslimin secara keseluruhan.

Amiin! [PurWD/voa-islam.com]

Terorisme dalam kaca mata Islam

Assalamu’alaikum….

Bung Rizki, sy bingung dengan aksi terorisme dimana terkadang dibelakangnya pelakunya orang muslim , seperti dahulu ada tokoh namanya Noordin M Top cs sering dalam tindakannya menggunakan dalil Al Qur’an…sehingga kesannya yg disampaikan dan tindakannya ada benarnya, namun disisi lain banyak umat islam mengecam aksi terorisme dan menilai hal tersebut melenceng dari ajaran islam, jadi bagaimana kita harus bersikap dalam hal ini? jelasnya…mana/siapa yang benar? maaf susunan katanya agak rancu… Terima kasih….

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabaralatuh,

NK yang dirahmati Allah Swt. Sebelum kita masuk ke dalam inti pertanyaan Anda, ada baiknya kita menengok dulu istilah “terorisme” yang sekarang ngetrend lagi paska pemboman dua hotel Amerika di Kuningan, Jakarta, kemarin.

Sekarang, istilah “Terorisme” diartikan sebagai “Tindakan meneror, merusak, dan menghancurkan segala hal yang berhubungan dengan kepentingan AS”. Sebab itu “Dunia” menyatakan jika HAMAS adalah teroris, Muslim Moro adalah teroris, dan sebagainya. Sedang Zionis-Israel yang jelas-jelas Dajjal itu tidak disebut teroris. Kaum NeoLib yang jelas-jelas sejak tahun 1967 menjual murah bangsa ini kepada imperialisme asing Yahudi Internasional, juga tidak dikatakan sebagai teroris, padahal dampaknya sangat dahsyat ribuan kali ketimbang semua pemboman yang pernah terjadi di Indonesia. Istilah Terorisme memang dijadikan AS sebagai istilah pengganti untuk “Common-Enemy” setelah istilah “Cold War” atau “The Red Devil” tidak laku lagi.

Nah, jika benar pelaku  pemboman yang anda tanyakan seperti  Noordin M Top cs , maka perbuatan itu jelas tidak benar dalam kacamata syariah Islam, walau dalil yang dipakai ayat-ayat Qur’an. Hal ini biasa terjadi. Bukankah dukun dan paranormal saja melakukan kemusyrikan juga menggunakan ayat-ayat dari kitab yang sama? Dan bahkan banyak politisi yang juga jualan ayat Qur’an namun niatnya bukan untuk dakwah, sekadar untuk meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga dan kelompoknya. Juga banyak ayat-ayat Qur’an digunakan untuk menipu umat. Kemarin kita semua bisa melihat bagaimana ayat-ayat Qur’an digunakan untuk mendukung pemimpin yang tidak mau membubarkan ajaran sesat Ahmadiyah, yang berarti dia tidak mau mematuhi perintah Allah Swt. Padahal Rasulullah SAW jelas-jelas mewajibkan umat-Nya untuk memerangi nabi-nabi palsu seperti si ghulam ahmad itu sampai ke akar-akarnya.  Semuanya ini jelas sesat.

Peperangan dalam Islam bersifat membebaskan, yakni pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah SWT. Perang dalam Islam sangat bersifat adil, tidak sembarangan, tidak boleh membunuh non-kombatan, tidak boleh merusak pepohonan, tidak boleh berlebihan, dan sebagainya. Jadi, perang ekonomi ya hadapilah dengan perlawanan ekonomi juga (boikot produk pro-Zionis misalkan seperti yang difatwakan Dr. Yusuf Qaradhawy), perang pemikiran ya hadapilah dengan perlawanan di bidang pemikiran juga, dan perang dengan meriam dan tank ya baru dihadapi dengan senjata yang seimbang.

Apa yang dilakukan teroris dengan meledakkan bom dua kali di Bali dan sekian  kali di Kuningan dan ditempat lainnya , jelas suatu tindakan yang tidak bisa dibenarkan dalam syarat-syarat peperangan dalam Islam. Benar jika Bali dipenuhi oleh turis dari Barat, benar jika JW Marriot dan Ritz Carlton milik Amerika, tapi apakah mereka memerangi umat Islam dengan bom dan peluru? Di Indonesia jelas tidak. Kalau pun mereka memerangi umat Islam, paling-paling dengan perang ekonomi dan pemikiran, maka harusnya dihadapi juga dengan perlawanan di bidang ekonomi dan pemikiran, bukan dengan bom. Itu baru adil.

Sayangnya, kebanyakan umat Islam sekarang ini banyak yang menjadi umat yang reaktif, bukan umat yang aktif. Kita sangat tertinggal hampir dalam semua sektor dibandingkan dengan umat yang lain. Dulu di negeri ini, pernah ada gerakan dakwah yang militan dan lurus, menyampaikan al-haq dan melawan al-bathil dengan penuh izzah walau kepada penguasa sekali pun, sayang sekarang semuanya sudah sirna terbakar gemerlap kursi kekuasaan, sehingga yang haq bisa jadi bathil dan juga sebaliknya. Yang model begini pun dengan menggunakan ayat-ayat Qur’an, sama seperti yang dilakukan dukun.

Kita sebagai umat Islam dalam memandang aksi-aksi terorisme di tanah air memang harus bersikap prihatin. Namun jangan salah, teroris yang membom dua sekian peristiwa di tanah air  lalu itu “cuma” menewaskan sekian kecil jumlah orang. Ada teroris yang jauh lebih besar, lebih berbahaya, lebih ganas, lebih rakus, yakni teroris yang dilakukan dengan diam-diam, dengan penuh senyum, yang dilakukan para Neolib sejak empatpuluh tahun lalu di negeri ini.

Yang dianggap teroris,  yang beraksi di tanah air ini  adalah teroris kelas kacangan, sedangkan teroris yang menjajah negeri ini sejak empatpuluhan tahun lalu adalah teroris yang sesungguhnya, yang telah berhasil menipu jutaan orang. Korban yang jatuh akibat perbuatan mereka ini jumlahnya ratusan juta orang, dan berjalan dari generasi ke generasi. Yang belakangan inilah yang seharusnya lebih harus diwaspadai dan dilawan. Tapi itu, ya lawannya dengan adil dan bermartabat, sesuai dengan kaidah perang dalam Islam. (Rz)

Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.   

sumber: eramuslim.com

Tuesday, 30 July 2013

Ramadhan : Road to Success

Alhamdulillaahi Wash Sholaatu Wassalaamu 'alaa RasuulilLaah ...

ammaa ba'du,

1. Sukses sejati adalah keberhasilan meraih do'a : ROBBANAA AATINAA FID DUN YAA HASANAH WA FIL AAKHIRATI HASANAH WAQINAA 'ADZAABAN NAAR

'Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu , atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. 2:200)
Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka " (QS. 2:201)
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. 2:202)'

2. Diraih dengan IMAN dan TAQWA

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)"

"[16:97] Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

"Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS. 40:39)
Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS. 40:40)"

"Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. (QS. 92:14)
Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, (QS. 92:15)
yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman. (QS. 92:16)
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, (QS. 92:17)"

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (QS. 3:133)"

3. Ramadhan Mendatangkan AMPUNAN

MAN SHOOMA ROMADHOONA IIMAANAN WAH-TISAABAN GHUFIRO LAHU MAA TAQODDAMA MIN DZANBIHI
" Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu". ( HR.Bukhary Muslim)

4. Ramadhan membukakan pintu SURGA yang diraih dengan TAQWA

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)"

5. Ciri Utama IMAN dan TAQWA adalah takut pada ALLAAH 'AZZA WA JALLA

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka , (QS. 23:60)
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS. 23:61)"

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS. 98:7)
Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya. (QS. 98:8)"

6. Orang yang takut pada Allah meraih hal itu dengan ILMU yang benar

"Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (Orang-orang yang BERILMU). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 35:28)"

7. Ilmu yang BENAR hanya dari ALLAAH Subhaanahu wa Ta'aalaa

"Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)"

8. Berbuah TAFAKKUR (merenungi ayat-ayat Allaah), DZIKIR (mengingat ALLAAH), dan TASBIH (mensucikan ALLAAH) sehingga melakukan DO'A (memohon pada ALLAAH) agar SELAMAT DARI SIKSA NERAKA.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. 3:190)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)"

9. Kesimpulan :

Agar kita bisa meraih SUKSES dengan datangnya Ramadhan, maka haruslah bersemangat meraih Ampunan ALLAAH dan meningkatkan TAQWA kepada Allaah dengan menumbuhkan Takut, Tafakkur, banyak Dzikir, rajin Menuntut Ilmu yang benar dan mengamalkannya (Ash Shirootul Mustaqiim), serta berdo'a dengan sungguh-sungguh.

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah 6 dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan . (QS. 1:5)
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. 1:6)
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat . (QS. 1:7)"

"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)"



Selamat Ramadhan, semoga Allaah Ta'aalaa menuntun lisan, mata, telinga, anggota badan, dan qalbu kita untuk selalu Dzikir/mengingat kepada-Nya ... Aamiin.


diambil dari: abuyahyalearntoblog.blogspot.com