Oleh: Ustaz Yusuf Mansur
Banyak kesulitan, kalau Allah berkehendak, maka kesulitan itu tidak jadi masalah buat kita. Banyak permasalahan, kalau Allah berkehendak, maka permasalahan itu tidak jadi masalah buat kita.Sebab kesulitan dan permasalahan hadir, tentunya kehendak Allah juga.
Lagipun Allah yang kasih soal, Allah pula yang kasih jawabannya.Penduduk negeri ini, secara makro, alhamdulillah masih punya ketahanan mental yang bagus. Masih shalat, masih puasa, masih ngaji, masih zikir, masih punya rasa hormat, masih sedekah di saat kesulitan, dan lain-lain sifat positif.
Sehingga alhamdulillaah segala kenaikan harga dan hilangnya barang bahkan, di bulan suci Ramadhan ini relatif tidak jadi keributan nasional yang mengarah kepada anarki.
Mudah-mudahan momentum berpuasa tambah menjadikan kita semua kuat, sabar, ikhlas, dan tenang menghadapi situasi apapun.
Namun sebagai renungan, sesungguhnya, secara mikro, secara individu-individu, manusia Indonesia, rasanya punya ujian masing-masing.
Ada yang punya hutang tak terbayar, ada yang belum kunjung menikah, ada yang sedang diuji dengan kesehatannya, ada yang sedang diuji dengan rumah tangganya.
Ada yang sedang diuji dengan anak keturunannya, ada yang sedang diuji dengan sekolah dan kuliahnya, pekerjaan dan usahanya, dan ada yang diuji dengan Patungan Usahanya, he he he. Itu saya ya?
He he he.
Maka bila itu terjadi, coba lihat hak-hak Allah. Jangan-jangan hak-hak Allah selama ini terabaikan. Kurang terpenuhi dengan baik. Penuhi hak-hak Allah, maka Allah akan lebih perhatikan kita semua.
Tapi bila kita mau sedikit merenungi hak-hak Allah, atau kewajiban kita kepada Allah, sampai ke perbuatan-perbuatan yang Allah senangi (mustahab/sunnah), rasanya kita akan jatuh satu demi satu.
Sehingga boleh jadi situasi sulit dan permasalahan yang terjadi, terdengar seperti peringatan bagi kita.
“Dan kami timpakan sebagian azab dunia kepada mereka sebelum datang azab yang besar, supaya mereka kembali.” (as Sajdah: 21).
Kalau kita ambil garis lurus, kehidupan sehari-hari, selama 24 jam, maka kita bakal tahu betapa kita sungguh telah banyak menyimpang.Allah menyuruh kita bangun malam, sebagai amalan awal, yang
Allah sangat sukai, termasuk witir. Lalu Allah mendatangi kita, dan menunggu kita datang, untuk sujud, ruku, dan berdoa kepada-Nya.
Tapi apa yang terjadi? Kita mengabaikan. Tidak menaruh perhatian sangat. Seadanya. Malah cenderung bener-bener melupakan.Allah menyuruh kita beristighfar di waktu sahur, baca Qur’an jelang shubuh, plus puncaknya shalat shubuh berjamaah di masjid.
Ternyata segala amalan yang menjadi hak Allah di awal pagi ini, plus amalan yang Allah sukai, sudah berantakan.Bagaimana dengan amalan di pagi, siang, sore, dan malam hari? Seperti dhuha, shalat berjamaah setiap waktu, bersedekah, bertasbih pagi dan petang, bershalawat, berzikir, berbuat baik.
Bisa-bisa skornya jelek sekali.Belum lagi soal maksiat kita, soal dosa kita, soal kita yang senang menyakiti orang, senang membuat orang rugi, cara kita mencari rizki, dan lain sebagainya, yang menambah penilaian wajar: Wajar jadi orang susah.
Kembalilah kepada Allah. Penuhi hak-haknya Allah. Insya Allah,
Allah akan membantu kita di setiap keadaan. Salam.
Wednesday, 24 July 2013
Aku khawatir kalian akan bersaing memperebutkan dunia dari pada Akhirat!!!
Senja menjelang matahari tenggelam. Di langit masih nampak
semburat matahari yang akan sirna, karena akan datangnya malam.
Jalan-jalan mulai sepi. Orang-orang mulai masuk ke rumah
mereka. Diantara mereka ada, yang sedang berjalan menuju
‘baitullah’, tak jauh dari rumah mereka. Tetapi, ada seorang
lelaki yang berjalan, terus menelurusi jalan yang berliku-liku,
menuju sebuah bukit. Ia melangkah terus menuju sebuah bukit,
hingga bayangannya tak nampak lagi.
Sungguh tak ada yang menyangka, bahwa laki-laki yang dengan
kesendiriannya itu, dan berjalan menelurusi bukit, yang berbatu
dan berbelok, di senja hari itu, tak lain adalah Rasulullah
Shallahu alaihi wassalm, yang sore pergi ke kuburan Uhud. Uqbah
bin Umair, suatu ketika menuturkan bahwa Rasulullah Shallahu
alaihi wassalam, pergi ke kuburan Uhud. Rasulullah menshalati
mereka, sesudah delapan tahun mereka dikuburkan seperti seorang
yang mengucapkan kalimat perpisahan kepada orang-orang yang
meninggal.
Usai menshalati para pejuang Uhud itu, Rasulullah lalu
menyampaikan do’anya, yang lirih dengan penuh kekhusukkan. “Aku
adalah pendahulu kalian dan saksi atas kalian. Tempat bertemu
kalian adalah telaga, dan aku benar-benar melihat dari tempatku
berdiri ini. Aku tidak khawatir kalian akan syirik, akan tetapi
aku khawatir kalian akan bersaing memperebutkan dunia”, ungkap
Rasulullah.
Kemudian, Uqbah bin Umair menyatakan : “Itu adalah saat
terakhir aku melihat dan memandang Rasulullah Shallahu alaihi
wassalam”. (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa bahagianya
orang-orang yang dapat melihat dan memandang serta bertemu
dengan kekasihnya Rasulullah Shallahu alaihi wassalam itu.
Mereka yang dapat bertemu dengan Rasulullah itu, bagaikan
mendapatkan air, ketika terik matahari pandang pasir, yang
memanggang sekujur tubuh, dan kering-kerontangnya tenggorokkan,
tiba-tiba mendapatkan tetesan air. Tetesan air kebahagian dari
perjumpaannya dengan Rasulullah. Betapa mereka akan berbahagia
kelak, di hari akhirat, yang mendapatkan do’a dan shafaat dari
Rasulullah. Seperti mereka pejuang Uhud, yang dido’akan oleh
Rasulullah Shallahu alaihi wassalam.
Betapa, ketika itu Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, yang
menjadi panutan dan tempat kembali para ummatnya, yang
menginginkan arahan dan do’a, justru Rasulullah Shallahu alaihi
wassalam, tidak mengkhawatirkan umatnya terjatuh ke dalam
lembah syirik. Tetapi, yang dikhawatirkan Rasulullah adalah
kalau-kalau umatnya banyak yang jatuh ke dalam pelukan dunia,
dan bersaing memperebutkan dunia. Dunia telah menjadikan
manusia yang hina. Dunia telah menjadikan manusia tidak
berharga. Dunia telah menjadikan manusia sebagai seekor
binatang, dan lebih hina dibandingkan dengan binatang. Karena
itu, Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, mengkhawatirkan
umatnya, jika nantinya bersaing memperebutkan sekerat kehidupan
dunia.
Dalam riwayat yang lain disebutkan : “Akan tetapi aku khawatir
kalian akan besaing memperebutkan dunia. Kalian akan berbunuhan
dan akhirnya kalian binasa seperti orang-orang sebelulm
kalian”, ujar Baginda Rasulullah Shalllahu alaihi wassalam.
Uqbah bin Umair meriwayatkan ketika, belaiu melihat terakhir
Rasulullah, dan berkata : “Aku adalah pendahulu kalian. Aku
saksi kalian. Demi Allah, aku sekarang melihat telagaku. Aku
diberi kunci gudang-gudang bumi atau kunci-kunci bumi. Dan demi
Allah, aku tidak khawatir kalian akan syirik setelah aku mati,
tetapi aku khawatir kalian akan bersaing memperebutkan dunia”.
Sesungguhnya, dengan kalimat itu Rasulullah ingin
memperingatkan kita untuk tidak besaing dalam mencintai dunia
dengan cara yang menjadikan kita lalai untuk mengingat Allah
Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya.
“ Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang bebuat
demikian, maka emreka itulah orang-orang yagn merugi”.
(al-Munafiqun : 9).
Selanjutnya, Abu Hurairah menuturkan bahwa ia mendengar
Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, bersabda : “ Ketahuilah,
dunia itu terlaknat dan terlaknat pula seluruh yang ada di
dunia, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang mengikutinya,
serta seorang ulama atau pelajar”. (HR.Tirmidzi)
Maka, jika kita ingin memahami dunia dan hakikat dunia,
cukuplah kita membaca firman Allah Ta’ala :
“Sesungguhnya perumpaan kehidupan duniawi itu adalah seperti
air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah
dengan suburnya karna air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya
ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila
bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula)
perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti
menguasainya, tiba-tiba datangnya kepada azab Kami di waktu
malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana
tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah
tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir”. (Surah
Yunus : 24).
Semoga manusia mau menyadari bahwa apa yang ada di dunia ini,
semua fana, dan akan lenyap, tanpa bersisa. Kejarlah dunia,
hingga nafasmu habis, dan tenagamu tak bersisa, niscaya manusia
tak pernah mendapatkan kepuasan dengannya. Manusia yang lalai
dengan dunia, maka diakhirat kelak, tentu akan menjadi hina.
Tak mampu lagi berdiri tegak dihadapan Allah Azza Wa Jalla.
Dan, segeralah manusia memohon ampun dan tobat serta kembalilah
kepada mengingat Allah, yang maha kekal, selama-lamanya, dan
yang maha hidup, tak pernah tidur, serta senantiasa akan
menjaga hamba-hambanya yang selalu mengingat-Nya.
Mengapa umurmu, engkau habiskan hanya berbuat sia-sia yang tak
berharga, dan tak bernilai, sehingga engkau meninggalkan
kemuliaan, yang sudah dijanjikan oleh oleh Allah Ta’ala.
Kembalilah. Dan, tinggalkan dunia ini, dan gapailah kemuliaan
di akhirat, yang pasti akan datang. Wallahu’alam. (Ms)
sumber:eramuslim.com
semburat matahari yang akan sirna, karena akan datangnya malam.
Jalan-jalan mulai sepi. Orang-orang mulai masuk ke rumah
mereka. Diantara mereka ada, yang sedang berjalan menuju
‘baitullah’, tak jauh dari rumah mereka. Tetapi, ada seorang
lelaki yang berjalan, terus menelurusi jalan yang berliku-liku,
menuju sebuah bukit. Ia melangkah terus menuju sebuah bukit,
hingga bayangannya tak nampak lagi.
Sungguh tak ada yang menyangka, bahwa laki-laki yang dengan
kesendiriannya itu, dan berjalan menelurusi bukit, yang berbatu
dan berbelok, di senja hari itu, tak lain adalah Rasulullah
Shallahu alaihi wassalm, yang sore pergi ke kuburan Uhud. Uqbah
bin Umair, suatu ketika menuturkan bahwa Rasulullah Shallahu
alaihi wassalam, pergi ke kuburan Uhud. Rasulullah menshalati
mereka, sesudah delapan tahun mereka dikuburkan seperti seorang
yang mengucapkan kalimat perpisahan kepada orang-orang yang
meninggal.
Usai menshalati para pejuang Uhud itu, Rasulullah lalu
menyampaikan do’anya, yang lirih dengan penuh kekhusukkan. “Aku
adalah pendahulu kalian dan saksi atas kalian. Tempat bertemu
kalian adalah telaga, dan aku benar-benar melihat dari tempatku
berdiri ini. Aku tidak khawatir kalian akan syirik, akan tetapi
aku khawatir kalian akan bersaing memperebutkan dunia”, ungkap
Rasulullah.
Kemudian, Uqbah bin Umair menyatakan : “Itu adalah saat
terakhir aku melihat dan memandang Rasulullah Shallahu alaihi
wassalam”. (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa bahagianya
orang-orang yang dapat melihat dan memandang serta bertemu
dengan kekasihnya Rasulullah Shallahu alaihi wassalam itu.
Mereka yang dapat bertemu dengan Rasulullah itu, bagaikan
mendapatkan air, ketika terik matahari pandang pasir, yang
memanggang sekujur tubuh, dan kering-kerontangnya tenggorokkan,
tiba-tiba mendapatkan tetesan air. Tetesan air kebahagian dari
perjumpaannya dengan Rasulullah. Betapa mereka akan berbahagia
kelak, di hari akhirat, yang mendapatkan do’a dan shafaat dari
Rasulullah. Seperti mereka pejuang Uhud, yang dido’akan oleh
Rasulullah Shallahu alaihi wassalam.
Betapa, ketika itu Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, yang
menjadi panutan dan tempat kembali para ummatnya, yang
menginginkan arahan dan do’a, justru Rasulullah Shallahu alaihi
wassalam, tidak mengkhawatirkan umatnya terjatuh ke dalam
lembah syirik. Tetapi, yang dikhawatirkan Rasulullah adalah
kalau-kalau umatnya banyak yang jatuh ke dalam pelukan dunia,
dan bersaing memperebutkan dunia. Dunia telah menjadikan
manusia yang hina. Dunia telah menjadikan manusia tidak
berharga. Dunia telah menjadikan manusia sebagai seekor
binatang, dan lebih hina dibandingkan dengan binatang. Karena
itu, Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, mengkhawatirkan
umatnya, jika nantinya bersaing memperebutkan sekerat kehidupan
dunia.
Dalam riwayat yang lain disebutkan : “Akan tetapi aku khawatir
kalian akan besaing memperebutkan dunia. Kalian akan berbunuhan
dan akhirnya kalian binasa seperti orang-orang sebelulm
kalian”, ujar Baginda Rasulullah Shalllahu alaihi wassalam.
Uqbah bin Umair meriwayatkan ketika, belaiu melihat terakhir
Rasulullah, dan berkata : “Aku adalah pendahulu kalian. Aku
saksi kalian. Demi Allah, aku sekarang melihat telagaku. Aku
diberi kunci gudang-gudang bumi atau kunci-kunci bumi. Dan demi
Allah, aku tidak khawatir kalian akan syirik setelah aku mati,
tetapi aku khawatir kalian akan bersaing memperebutkan dunia”.
Sesungguhnya, dengan kalimat itu Rasulullah ingin
memperingatkan kita untuk tidak besaing dalam mencintai dunia
dengan cara yang menjadikan kita lalai untuk mengingat Allah
Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya.
“ Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang bebuat
demikian, maka emreka itulah orang-orang yagn merugi”.
(al-Munafiqun : 9).
Selanjutnya, Abu Hurairah menuturkan bahwa ia mendengar
Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, bersabda : “ Ketahuilah,
dunia itu terlaknat dan terlaknat pula seluruh yang ada di
dunia, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang mengikutinya,
serta seorang ulama atau pelajar”. (HR.Tirmidzi)
Maka, jika kita ingin memahami dunia dan hakikat dunia,
cukuplah kita membaca firman Allah Ta’ala :
“Sesungguhnya perumpaan kehidupan duniawi itu adalah seperti
air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah
dengan suburnya karna air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya
ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila
bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula)
perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti
menguasainya, tiba-tiba datangnya kepada azab Kami di waktu
malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana
tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah
tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir”. (Surah
Yunus : 24).
Semoga manusia mau menyadari bahwa apa yang ada di dunia ini,
semua fana, dan akan lenyap, tanpa bersisa. Kejarlah dunia,
hingga nafasmu habis, dan tenagamu tak bersisa, niscaya manusia
tak pernah mendapatkan kepuasan dengannya. Manusia yang lalai
dengan dunia, maka diakhirat kelak, tentu akan menjadi hina.
Tak mampu lagi berdiri tegak dihadapan Allah Azza Wa Jalla.
Dan, segeralah manusia memohon ampun dan tobat serta kembalilah
kepada mengingat Allah, yang maha kekal, selama-lamanya, dan
yang maha hidup, tak pernah tidur, serta senantiasa akan
menjaga hamba-hambanya yang selalu mengingat-Nya.
Mengapa umurmu, engkau habiskan hanya berbuat sia-sia yang tak
berharga, dan tak bernilai, sehingga engkau meninggalkan
kemuliaan, yang sudah dijanjikan oleh oleh Allah Ta’ala.
Kembalilah. Dan, tinggalkan dunia ini, dan gapailah kemuliaan
di akhirat, yang pasti akan datang. Wallahu’alam. (Ms)
sumber:eramuslim.com
Monday, 22 July 2013
Kisah Sedih di Bulan Ramadhan
“Ibu! Berapa ikat sayur bayam yang kita beli?, tanya Insani, pada ibunya. Ibu dan anaknya termangu memperhatikan sayur bayam yang teronggok. Ibu muda itu hanya dapat memandanginya. “Tak membeli dua ikat sayur bayam ya … Aku juga ingin membeli kolak”, tambah Insani. “Ibu uangnya tak cukup nak”, tambah ibunya.Ibu muda yang disertai anaknya itu, mengelilingi pasar, di sekitar Jalan Raya Bogor.
Mereka hanya melihat barang-barang kebutuhan pokok. Tapi, ia tak mampu membelinya. Uang yang mereka miliki sangat sedikit. Awal ramadhan buat mereka, hanyalah kesedihan. Keluarga itu tak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka. Kadang mereka berbuka hanya dengan sebungkus mie. Ada lagi keluarga yang saur dan berbuka dengan singkong serta tempe. Selama ramadhan.
Di pasar para pembeli hanya hilir mudik. Mereka bingung akan membeli apa. Seperti orang yang tak tahu mau melakukan apa? Setiap tahun sudah ajek. Saat menjelang ramadhan atau ied fitri, harga kebutuhan pokok melonjak, yang tak terjangkau bagi kalangan lapisan bawah.
Nilai uang masyarakat terus digerogoti inflasi. Uang menjadi tak berarti. Karena harga barang-barang terus naik. Penghasilan rakyat tak bertambah. Dari waktu ke waktu penghasilan mereka, justru cenderung menurun. Kemampuan daya beli rakyat terus berkurang, mereka tak mampu lagi memenuhi kebutuhan pokok mereka. Di tambah setiap hari jumlah orang yang menganggur semakin banyak. Pabrik-pabrik tutup. Karena para pemilik modal memindahkan investasi mereka ke negara lain.
Memang nasib masyarakat lapisan bawah makin tragis. Mereka adalah kuli bangunan, sopir, buruh musiman, tukang ojek, tukang mie, buruh tani, para nelayan, dan para pedagang asongan, nasib mereka semakin terpuruk. Ini akibat berbagai kebijakan yang semakin tak memihak mereka. Minyak langka. Harga gas terus naik. Harga BBM terus dinaikkan. Disesuaikan dengan harga BBM dipasaran internasinal. Agar para pemilik modal asing bisa bermain di pasar lokal. Dengan mengorbankan masyarakat kecil. Tak peduli jeritan rakyat.
Beberapa tahun ini, setidaknya sudah sekian kali harga BBM dinaikkan. Rakyat kecil langsung terpukul secara ekonomi, mereka tak mampu bangkit lagi.
Ketika rakyat sudah beralih dari minyak tanah ke gas, tapi sekarang harga gas terus naik. Mereka kehilangan kebutuhan pokok, yaitu bahan bakar, yang mereka gunakan kebutuhan sehari-hari. Paradok. Gas dan minyak di eksport keluar negeri. Di dalam negeri kesulitan pasokan bahan bakar.
Kini, tukang ojek tak lagi dapat bergembira, karena penghasilan mereka terus menurun. Tak mungkin lagi mereka dapat membawa pulang uang Rp50.000 rupiah. Bahkan, di antara mereka ada yang tidak berani pulang. Karena, mereka hanya mendapatkan uang Rp20.000 rupiah, sementara ia harus membiayai empat anaknya yang masih sekolah.Apalagi, buruh musiman, tukang mie, buruh tani, para nelayan, para pedagang asongan, usaha mereka semakin tergerus dengan kenaikan harga, sampai ada peristiwa tragis, di Pandeglang, seorang pedagang mie yang bunuh diri, karena selalu rugi.
Anak-anak yang mengemis di jalan-jalan, di kereta, di pasar, jumlahnya makin banyak. Pengamen tak terhitung lagi. Mereka semuanya di bulan ramadhan ini tetap harus survive.Harus tetap hidup. Harus tetap mencari nafkah. Seberapa pun dapatnya. Mereka tak pernah menyerah dengan keadaan. Mereka harus menjalani kehidupan. Betapapun sangat berat. Anak-anak kecil yang masih belum waktunya mencari rezeki (nafkah) mereka di perempatan lampu merah, kadang-kadang sampai larut. Mereka tinggal di tempat-tempat yang kotor, yang tak layak. Mereka terus menjalani kehidupan ini dengan segala peristiwa dan penderitaan yang mereka alami..
Ramadhan tahun ini sejuk. Di awali dengan hujan, dan mendung. Tak terasa terik matahari. Seakan Allah tabarakallahu ta’ala menurunkan rahmat Nya bagi seluruh umat manusia. Tapi, belum mengubah nasib mereka, orang-orang yang miskin. Orang-orang ramai melaksanakan shalat di masjid-masjid, di malam hari, yang menandakan datangnya bulan ramadhan.
Tapi, bagaimana nasib mereka? Nasib rakyat yang miskin, yang papa, dan tak memiliki apa-apa?Al-qur’anul Karim di dalam surat al-Hasyr, ayat: 6, Allah memerintahkan agar kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang yang kaya (para aghniya’). Tapi didistribusikan dengan adil, ke seluruh penduduk. Ini hanya dapat dilakukan oleh seorang pemimpin yang adil, yang zuhud terhadap dunia. Kekuasaan yang dimiliki bukan hanya untuk menumpuk kekayaan, tanpa mempedulikan jeritan dan penderitaan rakyatnya.
Khalifah Abu BakarAs-Shidiq, ketika berkuasa, setiap pagi mengunjungi rumah seorang janda tua renta, miskin, dan tidak lagi memiliki apa-apa. Apa yang dikerjakan Abu Bakar? Dia menyapu rumahnya, memerahkan susu, dan menyiapkan makanan buat wanita tua itu. Padahal, dia seorang khalifah, yang sangat mulia, orang pertama sesudah Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Di masa Abu Bakar, orang-orang yang kaya yang tidak membayar zakat diperangi. Orang fakir miskin nasibnya dilindungi.
Sekarang mereka yang menjadi ‘pemimpin’ hanya tipe orang-orang yang tamak, rakus dunia, dan hanya mengumpulkan kekayaan, yang tak terbatas. Sementara itu, kondisi rakyatnya terus menderita. Wallahu Alam. (Ms)
sumber: eramuslim.com
Saturday, 20 July 2013
Inilah Alasan Kenapa Harus Memperbanyak Doa di Bulan Ramadhan
Oleh: Badrul TamamAl-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.
Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak doa dan mengetuk pintu langit, karena ia saat yang mustajab dikabulkannya doa. Allah langsung menyebutkan urusan berdoa setelah menyebutkan beberapa ayat tentang puasa. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Allah mengabarkan kepada kita –melalui ayat ini- di sana terdapat kaitan erat antara puasa dan doa. Ditambah lagi kabar dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bahwa orang yang berpuasa memiliki doa yang tak tertolak.
Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi, dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
ثَلَاث دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ، وَدَعْوة الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
“Tiga doa yang tak tertolak; doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (Dishahihkan Syaikh Al-Hamdulillah, segala puji milik Al-Albani dalam Silsilah Shahihah)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doanya orang yang terzalimi." (HR. Al-Tirmidi, Ahmad, Ibnu Majah. Dishahihkan Syu'aib al-Arnauth dalam Tahqiq al-Musnad)
Tiga orang yang disebutkan dalam hadits tersebut diistimewakan dengan pengabulan doa. Yakni doa mereka segera dikabulkan. Hal itu karena ketundukan mereka dalam berdoa kepada-Nya. Terkhusus orang berpuasa saat berbuka, karena ia usai mengerjakan ibadah dan saat itu ia dalam keadaan khudhu' dan tenang. Karenanya para ulama salaf sangat-sangat mengagungkan waktu penghujung hari (sore hari) karena ia menjadi penutup hari puasa.
Oleh sebab itu hendaknya seseorang memperbanyak doa dan sungguh-sungguh dalam berdoa saat berpuasa. Karena saat berpuasa seseorang menyambut seruan Allah untuk meninggalkan apa yang disukai jiwanya lalu mengerjakan apa-apa yang diridhai Rabbnya. Hatinya bersih karena ketaatan-ketaatan yang dikerjakannya serta ia meninggalkan apa-apa yang menghalangi terkabulnya dia seperti memakan yang haram dan semisalnya. Maka orang yang berdoa seperti ini akan mendapatkan jaminan pengabulan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
. . . hendaknya seseorang memperbanyak doa dan sungguh-sungguh dalam berdoa saat berpuasa. Karena saat berpuasa seseorang menyambut seruan Allah untuk meninggalkan apa yang disukai jiwanya lalu mengerjakan apa-apa yang diridhai Rabbnya. . .
Terlebih doa merupakan sesuatu yang sangat Allah sukai. Allah senang jika hamba-Nya berdoa kepada-Nya. Sebaliknya, Allah murka terhadap hamba yang tidak mau meminta dan berdoa kepada-Nya. Tentunya ini akan semakin menyempurnakan ibadah shiyam yang di kerjakan di bulan Ramadhan Mubarak ini.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".” (QS. Ghafir: 60)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (HR. Abu Dawud dan Al-Tirmidzi Dishahihkan oleh Al-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan Al-Tirmidzi)
Dalam berdoa hendaknya memanfaatkan waktu istimewa untuk memanjatkan doa, seperti: penghujung hari Jum’at, saat akan berbuka, antara adzan dan iqomah, saat sujud, di penghujung shalat, dan sepertiga malam terakhir. Khusus di sepertiga malam terakhir ini terdapat kemuliaan lebih karena Allah 'Azza Wa Jalla turun ke langit dunia dan menyeru akan mengabulkan doa dan mengampuni untuk orang yang berdoa dan beristighfar kepada-Nya. Karenanya, jangan tidur di waktu sahur (penghujung malam). Perbanyak shalat, doa, dan istighfar. Lalu lanjutkan dengan makan sahur. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Subscribe to:
Posts (Atom)

